Kompas.com - 18/10/2013, 12:53 WIB
EditorEgidius Patnistik

LONDON, KOMPAS.COM —
Seorang pria Inggris dinyatakan bersalah karena berulang kali memerkosa seorang gadis yatim piatu asal Pakistan yang dia sekap di ruang bawah tanah sebagai seorang budak selama 10 tahun.

Pria 84 tahun bernama Ilyas Ashar itu dinyatakan bersalah pada Rabu (16/10/2013) atas 13 tuduhan perkosaan terhadap gadis itu, yang sekarang diperkirakan berusia 19 atau 20 tahun, yang tinggal bersama Ashar dan istrinya, Tallat, di Salford, Inggris. Demikian menurut laporan harian Inggris, Independent.

Gadis itu dibawa ke Inggris dari Pakistan ketika masih berusia sekitar 10 tahun. Korban yang tuli dan bisu itu dipaksa untuk memasak dan membersihkan rumah penyekapnya, serta rumah teman-teman dan keluarga si penyekap, kata laporan itu.

Gadis itu tidak diizinkan ke sekolah saat tinggal bersama keluarga Ashar. Korban kemudian diajarkan bahasa isyarat oleh para ahli khusus setelah dia diselamatkan, lapor Manchester Evening News. Gadis malang itu kemudian menggunakan kemampuan bahasa isyaratnya untuk bersaksi melawan para penyekapnya, lapor koran itu, yang memberitakan bahwa korban menyebut Ilyas Ashar sebagai "orang tua yang buruk".

Putusan itu memberi sinyal berakhirnya penyelidikan empat tahun yang dimulai saat korban secara kebetulan ditemukan tidur di ruang bawah tanah dalam kunjungan petugas trading standards tahun 2009 ke rumah keluarga Ashar.

Dalam persidangan sebelumnya, Ashar dihukum terkait dua tuduhan perdagangan orang ke Inggris dan tiga dakwaan berkaitan dengan penipuan, lapor Independent. Istri Ashar dan putrinya, Faaiza Ashar, juga dihukum atas tuduhan penipuan.

Kasus tersebut merupakan sesuatu yang sangat menguras emosi dari mereka yang terlibat. Petugas dari Greater Manchester Police, Mey Doyle, melukiskan Ashar sebagai "penjahat tulen" kontras dengan korban yang "sangat berani", lapor BBC.

Ian Rushton dari Crown Prosecution Service mengatakan, kasus itu mewakili eksploitasi terhadap korban yang "paling rentan" yang pernah ia dengar.

"Ketika dia (gadis itu) pertama kali dibawa ke Inggris dia hanya seorang anak kecil," kata Rushton sebagaimana dikutip BBC. "Dia tidak bisa mendengar atau berbicara dan tidak memiliki bahasa isyarat formal untuk berkomunikasi, tidak ada keluarga atau teman untuk berpaling, belum pernah ke sekolah dan tidak punya pengetahuan tentang budaya dan masyarakat negeri ini. Kami telah bertekad untuk menyeret mereka ke pengadilan untuk jenis pelecehan seperti ini."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.