Kompas.com - 10/10/2013, 15:30 WIB
EditorEgidius Patnistik
LAHORE, KOMPAS.COM — Sekitar 200-300 orang bergandengan tangan membentuk sebuah rantai manusia di luar Gereja St Anthony di Empress Road, Lahore, Pakistan, Minggu (6/10/2013). Mereka hendak menunjukkan solidaritas bagi korban serangan terhadap gereja di Peshawar dua minggu sebelumnya, yang mengakibatkan lebih dari 100 orang tewas. Serangan bom bunuh diri kembar di Gereja All Saints itu terjadi setelah kebaktian hari Minggu berakhir dan diyakini merupakan serangan paling mematikan di Pakistan terhadap orang-orang Kristen.

Orang-orang itu berdiri di halaman kecil Gereja St Anthony ketika Mufti Mohammad Farooq menyampaikan khotbah yang mengutip beberapa ayat Al Quran yang mengajarkan toleransi dan menghormati orang dengan keyakinan lain. Pastor Nasir Gulfam melangkah tepat di sampingnya setelah melakukan kebaktian selama dua jam pada hari Minggu itu di dalam gereja tersebut. Kedua orang itu berdiri bergandengan tangan sebagai bagian dari rantai manusia yang dibentuk di luar gereja. Aksi itu bukan hanya untuk menunjukkan solidaritas, tetapi juga untuk mengirim pesan, "Satu Bangsa, Satu Darah".

Tribune Aksi rantai manusia bukan hanya untuk menunjukkan solidaritas, tetapi juga untuk mengirim pesan, "Satu Bangsa, Satu Darah"
Aksi itu merupakan bagian dari upaya untuk menyadarkan masyarakat luas. Pembentukan rantai manusia itu merupakan peristiwa kedua setelah hal serupa diselenggarakan di Karachi pada pekan sebelumnya di luar Katedral St Patrick oleh sebuah organisasi bernama Pakistan Untuk Semua, yang merupakan kumpulan warga yang prihatin dengan meningkatnya serangan terhadap minoritas.

"Teroris menunjukkan kepada kami apa yang mereka lakukan pada hari Minggu. Di sini kami menunjukkan kepada mereka apa yang kami lakukan pada hari Minggu. Kami bersatu," kata Mohammad Nasir Jibran, penyelenggara yang menyerukan ajakan untuk acara itu di media sosial, sebagaimana dikutip media Pakistan, Tribune.com.pk.

Tribune Aksi pembentukan rantai manusia juga telah dilakukan Karachi.
Ia terbang dari Karachi untuk membentuk rantai manusia itu. Nasir dan kelompoknya tampil untuk menganjurkan perlunya kerukunan antaragama. "Saya tidak melihat alasan mengapa para politisi dan pemimpin kami tidak keluar dari rumah mereka, meninggalkan kemewahan rumah aman mereka dan berdiri dalam solidaritas bersama orang-orang biasa," katanya.

Mariam Tariq yang menghadiri kebaktian bersama putrinya kemudian bergabung dalam rantai manusia itu. "Kami telah kehilangan begitu banyak orang yang kami cintai selama beberapa tahun terakhir," kata Tariq sambil menangis haru.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Tribune
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.