Kompas.com - 07/10/2013, 19:42 WIB
Malala Yousafzai, aktivis remaja yang nyaris tewas ditembak Taliban tahun lalu, berpidato di PBB tepat pada ulang tahunnya yang ke-16, Jumat (12/7/2013). Malala mendesak dunia untuk memberikan akses pendidikan sebesar-besarnya untuk anak-anak. STAN HONDA / AFPMalala Yousafzai, aktivis remaja yang nyaris tewas ditembak Taliban tahun lalu, berpidato di PBB tepat pada ulang tahunnya yang ke-16, Jumat (12/7/2013). Malala mendesak dunia untuk memberikan akses pendidikan sebesar-besarnya untuk anak-anak.
EditorErvan Hardoko
ISLAMABAD, KOMPAS.com — Setelah selamat dari upaya pembunuhan Taliban, ternyata ancaman terhadap Malala Yousafzai belum berhenti. Taliban dikabarkan kembali menebar ancaman untuk membunuh remaja ini.

Juru bicara Taliban Shahidullah Shahid mengatakan, kelompoknya tetap akan mencoba membunuh remaja 16 tahun itu yang dianggap telah "menghina Islam".

"Dia mengakui telah menyerang Islam jadi kami akan kembali mencoba membunuhnya. Jika kami mendapatkan kesempatan, kami pasti akan membunuhnya dan itu akan membuat kami bangga," kata Shahid.

"Islam melarang kami membunuh perempuan, kecuali mereka yang mendukung orang-orang yang melawan Islam," tambah dia.

Ancaman pembunuhan baru ini muncul di saat Malala menjadi salah seorang kandidat kuat untuk meraih hadian Nobel perdamaian, yang akan diumumkan pemenangnya pada Jumat mendatang.

Sementara itu, dalam wawancara dengan program Panorama produksi BBC, Malala mengatakan jika dia memenangkan Nobel, maka itu merupakan "sebuah anugerah besar". Namun, tujuah utamanya tetap memperjuangkan pendidikan secara universal.

"Jika saya tidak memenangkan Nobel, tidak masalah, sebab tujuan hidup saya bukan untuk memenangkan Nobel. Tujuan saya adalah memperjuangkan perdamaian dan pendidikan untuk semua anak-anak," kata dia.

Malala kini tinggal di Inggris bersama keluarganya. Namun, dia berencana pulang ke Pakistan saat dia sudah mendapatkan cukup pendidikan.

Dia menggambarkan cara Taliban berkuasa dengan menebar ketakutan adalah hal yang membuatnya berani berbicara.

"Hukuman keras Taliban, seperti hukuman mati di Green Chowk (lapangan utama di kota kelahiran Malala, Mingora), menyiram air keras ke wajah perempuan atau membunuh mereka," ujar Malala.

"Saya sangat khawatir dengan masa depan saya. Saat itu, ketakutan meliputi kami, di seluruh kota Mingora," kenangnya.

Pada Selasa (8/10/2013), Malala akan meluncurkan otobiografinya berjudul, Saya Malala: Gadis yang Memperjuangkan Pendidikan dan Ditembak Taliban.



Sumber Sky News
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X