Kompas.com - 07/10/2013, 14:58 WIB
|
EditorEgidius Patnistik
MINGORA, KOMPAS.COM - Di kota asal Malala Yousafzai di Pakistan, teman-teman sekolahnya berharap dapat menyaksikan gadis itu meraih Hadiah Nobel Perdamaian pada pekan ini. Namun mereka hanya bisa secara diam-diam mengharapkan hal itu karena berada di bawah tekanan masyarakat yang sangat ambivalen tentang aktivis remaja tersebut.

Malala, yang selamat setelah ditembak Taliban pada 9 Oktober tahun lalu, menjadi duta global untuk pendidikan, dijamu para selebriti dan politisi di dunia Barat. Namun di lembah Swat di Pakistan barat laut, di daerah yang sangat konservatif yang takut pengaruh asing mencemari tradisi masyarakat mereka, banyak orang memandang Malala dengan kecurigaan dan bahkan penghinaan.

Teman lama Malala, Safia, tidak memiliki keraguan tersebut. Saat memisahkan diri dari sekelompok gadis-gadis di sebuah sekolah menegah atas di Mingora, di kota utama di Swat, dia berbicara dengan penuh percaya diri tentang temannya dan hak-hak perempuan, dalam bahasa Inggris yang sangat baik.

Malala merupakan salah satu kandidat favorit peraih Nobel Perdamaian, yang akan diumumkan Jumat mendatang, dan Safia mengatakan Malala layak untuk itu. Dia mendukung upaya Malala agar semua anak, perempuan dan laki-laki, untuk pergi ke sekolah. "Sebuah sepeda tidak dapat berjalan dengan hanya satu roda. Masyarakat itu seperti sebuah sepeda. Pendidikan laki-laki sebagai roda pertama dan pendidikan perempuan sebagai (roda) yang kedua," katanya kepada kantor berita AFP.

Swat yang indah dan hijau pernah menyedot banyak wisatawan, tetapi tempat itu dilanda perang tahun 2007 ketika Taliban Pakistan mengambil kendali dan menegakkan hukum Islam garis keras sampai mereka kemudian diusir tentara dua tahun kemudian. Namun kantong-kantong militansi masih tersisa dan tahun lalu skuad serang Taliban menembak Malala tepat di kepala. Gadis itu ditembak dari jarak dekat di bus sekolahnya.

Hebatnya, Malala selamat dan telah menghabiskan waktu satu tahun terakhir di Inggris, pertama untuk pengobatan dan kemudian untuk melanjutkan pendidikan.

Apa yang dirasakan Safia dirasakan juga oleh banyak siswi di Mingora, yang menginginkan negara dan daerah mereka dikenal orang karena sesuatu yang lain, bukan karena Taliban dan bom. "Malala seorang model, tidak hanya bagi kami tetapi untuk seluruh Pakistan," kata Rehana Noor Bacha (14 tahun).

Pendidikan telah membaik di Swat sejak zaman Taliban. Sejak 2011 proporsi anak perempuan bersekolah meningkat menjadi hampir 50 persen, dari 34 persen, sedangkan anak laki-laki mendekati 90 persen. Namun pihak berwenang mengatakan, mereka kekurangan setidaknya seribu guru perempuan dan 200 ruang kelas untuk anak perempuan.

"Amerika Ciptakan Malala'

Malala telah menjadi salah satu remaja paling terkenal di dunia. Ia mendapat dukungan dari orang-orang seperti Madonna, Angelina Jolie, Hillary Clinton, Bono dan Gordon Brown. Namun popularitasnya yang meroket di Barat, dan penampilan yang sering di media, telah memicu kecurigaan dalam masyarakat yang memandang perempuan tetap tidak boleh tampil di depan umum dan dengan cepat menyalahkan kekuatan asing sebagai sumber penyakit-penyakit sosial tersebut.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.