Kompas.com - 05/10/2013, 21:41 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

Puncak keberhasilan Giap terhadap Prancis terjadi pada 13 Maret 1954. Kala itu, Giap melancarkan serangan besar-besaran untuk menggempur Dien Bien Phu. Selama 56 hari, pasukan Viet Minh melakukan serangan gerilya hingga akhirnya pasukan Prancis mundur dan terkonsentrasi di area kecil Dien Bien Phu.

Komandan Artileri Prancis di region ini shock, tak percaya alutsista unggul yang dimilikinya tak mampu menahan gerak serangan pasukan Viet Minh yang dipimpin Giap. Sebanyak lebih dari 7.000 tentara Prancis tewas dan 11.000 lainnya tertawan. Kekalahan di Dien Bien Phu ini benar-benar memaksa Prancis berunding dengan Vietnam.

Amerika Terlibat

Amerika Serikat yang ingin melawan kelompok komunis memanfaatkan momentum ini dan masuk menggantikan pasukan Prancis. AS mengerahkan pasukan hingga 492.000 orang yang ditempatkan di Vietnam Selatan.

Namun, jumlah pasukan yang lebih banyak ini tidak membuat Giap gentar. Taktik perang gerilya dan pertahanan rakyat semesta terus digalakkan. Terbukti, AS yang awalnya membumihanguskan Vietnam, harus angkat koper dengan perasaan malu. Simbolisasi kepergiaan AS ditandai dengan larinya Dubes mereka dari ruang kerjanya pada tahun 1975.

Kesuksesannya melawan penjajah, di sisi lain, juga membuat dia dimusuhi oleh banyak elit politik Partai Komunis Vietnam. Dia memutuskan untuk meninggalkan ranah politik pada 1991 setelah Politbiro Komunis menendangnya dari elit Partai Komunis.

Kendati demikian, dia kerap menyuarakan berbagai isu sensitif, termasuk masalah korupsi, hinga dia memasuki usia 90 tahun.

Setelah kabar meninggalnya Giap beredar, berbagai ungkapan belasungkawa dari warga Vietnam muncul di dunia maya. Namun demikian, televisi dan radio pemerintah tetap belum menyiarkan kabar kematiannya. Hingga akhirnya, Pemerintah Vietnam secara resmi mengumumkannya pada Sabtu ini.

Tampak di rumah Giap pada hari ini, masyarakat mengungkapkan bela sungkawanya dengan melambaikan tangan ke arah rumah sang jenderal.

Mantan guru sejarah itu akan dikebumikan di Provinsi Quang Binh atas permintaan keluarganya. Ia meninggalkan seorang istri yang dinikahinya sejak 1949, Dang Bich Ha dan empat anak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber ,
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.