Kompas.com - 27/09/2013, 04:03 WIB
Anak Suriah mengantre makanan di utara Kota Raqqa, selama bulan suci Ramadhan, 14 Juli 2013. Kepala Koalisi Nasional Suriah Ahmad al-Assi telah mendukung seruan untuk gencatan senjata selama bulan suci Ramadhan dari Sekjen PBB Ban Ki-Moon. AFP PHOTO / MEZAR MATARAnak Suriah mengantre makanan di utara Kota Raqqa, selama bulan suci Ramadhan, 14 Juli 2013. Kepala Koalisi Nasional Suriah Ahmad al-Assi telah mendukung seruan untuk gencatan senjata selama bulan suci Ramadhan dari Sekjen PBB Ban Ki-Moon.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
NEW YORK, KOMPAS.com — Lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB telah mencapai kesepakatan tentang poin kunci resolusi untuk Suriah, yakni pembongkaran stok senjata kimia. Para diplomat untuk PBB, Kamis (26/9/2013), mengatakan, Rusia dan Amerika Serikat masih bernegosiasi tentang beberapa masalah yang belum dapat disepakati.

Di antara persoalan yang belum bisa disepakati Amerika dan Rusia, disebutkan adalah soal cara penghancuran senjata kimia tersebut. Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu setelah dijadwalkan, yang dibuat terburu-buru, Kamis, untuk pembicaraan tertutup mencari titik temu.

Pernyataan dari diplomat ini muncul setelah sehari sebelumnya Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov mengatakan, perunding telah mengatasi rintangan utama dan setuju bahwa resolusi itu akan menyertakan referensi ke Bab 7 Piagam PBB. Resolusi itu memungkinkan dilakukannya militer dan nonmiliter untuk mempromosikan perdamaian dan keamanan.

Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney tidak mengonfirmasi bahwa kesepakatan mengenai resolusi telah tercapai. "(Tapi) kami telah membuat kemajuan yang baik," kata Carney. "Kami berharap bahwa ini akan diselesaikan dan proses akan bergerak maju dengan cepat."

Sementara dari Moskwa,
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menawarkan penyediaan pasukan untuk menjaga fasilitas yang diduga akan menjadi lokasi penghancuran senjata kimia Suriah.

Langkah maju...

Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius, Kamis, mengatakan kepada wartawan ada beberapa hal yang perlu disempurnakan dalam rancangan resolusi, tetapi menyatakan optimisme akan segera ada kesepakatan. "Sudah ada kemajuan," ujar dia.

Sebelumnya, Rabu (25/9/2013), Fabius mengatakan, lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB sekaligus pemilik hak veto itu akan menyetujui resolusi pada Kamis atau Jumat (27/9/2013). Perkiraan ini juga disampaikan oleh Gatilov.

Selama berpekan-pekan kelima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB membahas rancangan resolusi baru yang mengharuskan senjata kimia Suriah diamankan dan dihancurkan. Semua perdebatan ini masih terkait dengan temuan bukti penggunaan senjata kimia dalam serangan di kawasan timur Damaskus, pada 21 Agustus 2013.

Setelah Kerry mengatakan kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad bahwa aksi militer Amerika dapat dicegah dengan menyerahkan setiap senjata kimia Suriah pada pengawasan internasional, Rusia menyatakan persetujuan untuk membuat resolusi. Kesepakatan tentang resolusi antara Amerika dan Rusia ditandatangani di Geneva, Swiss, pada 13 September 2013.

Gatilov mengatakan kepada The Associated Press, Rabu, bahwa resolusi yang akan dibuat Dewan Keamanan PBB tidak akan menyertakan pemicu otomatis untuk penggunaan kewenangan sesuai  ketentuan Bab 7 Piagam PBB. Artinya, dewan harus membuat resolusi baru untuk menggelar aksi lanjutan bila Suriah menolak mematuhi resolusi yang akan segera disepakati ini.

Sementara Fabius, Kamis, mengatakan, ada tiga isu sulit yang sudah berhasil mereka dorong untuk disepakati. Ketiganya adalah pencantuman kalimat "penggunaan senjata kimia di Suriah dan di tempat lain adalah kejahatan",
pencantuman Bab 7 Piagam PBB sebagai referensi yang berisi kata-kata yang serupa dengan kesepakatan antara Amerika dan Suriah yang dibuat di Geneva, serta dimasukkannya pernyataan yang mengatakan siapa pun yang bertanggung jawab dalam penggunaan senjata kimia harus diminta pertanggungjawaban.

Konflik Suriah sudah berjalan selama 2,5 tahun, dan selama itu Dewan Keamanan PBB seolah lumpuh. Saat ini, konflik tersebut sudah menewaskan lebih dari 100.000 orang. Sebelumnya, resolusi tak pernah bisa dibuat karena Rusia dan China berbeda pendapat dengan tiga negara lain, yakni Amerika, Inggris, dan Perancis. Tiga rancangan resolusi yang dibuat sebelumnya selalu diveto oleh Rusia dan China.

Kerry, Kamis, mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri China Wang Yi "telah memiliki persetujuan yang kuat tentang perlunya resolusi Dewan Keamanan PBB (untuk Suriah) yang bersifat wajib dan mengikat". Namun, sejauh ini, berdasarkan pernyataan pejabat anonim dari Amerika, China tidak memberikan indikasi apakah mereka akan mendukung resolusi yang sudah disepakati Amerika dan Rusia.

Pembahasan mengenai resolusi terus berlangsung di Dewan Keamanan PBB berbarengan dengan pembahasan lain yang juga berlangsung di
Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW). Resolusi PBB akan menyertakan teks deklarasi OPCW yang akan membuat deklarasi tersebut mengikat secara hukum dan menjadikan organisasi itu sebagai pengambil tindakan pertama ketika resolusi disepakati di Dewan Keamanan PBB.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.