Kompas.com - 22/09/2013, 18:49 WIB
EditorEgidius Patnistik
PESHAWAR, KOMPAS.COM — Sedikitnya 53 orang tewas dan lebih dari 100 orang lainnya luka-luka saat dua pengebom bunuh diri, Minggu (22/9), melancarkan serangan di sebuah gereja di kota Peshawar di Pakistan barat laut yang bergolak, kata sejumlah pejabat. Peristiwa itu merupakan salah satu serangan paling mematikan selama bertahun-tahun terhadap umat Kristen di Pakistan yang mayoritas penduduknya Muslim.

Angka korban tewas itu disampaikan Dokter Sher Ali, wakil pengawas medis Rumah Sakit Lady Reading, sebuah rumah sakit utama di Peshawar.

Komisaris polisi Peshawar, Sahibzada Anees, mengatakan kepada wartawan bahwa para pengebom menyerang saat kebaktian di gereja itu baru saja berakhir. "Sebagian besar korban luka berada dalam kondisi kritis," kata Anees. Ia menambahkan, pengamanan khusus telah diberlakukan untuk melindungi gereja itu. "Kami berada di sebuah daerah yang merupakan sasaran terorisme dan di dalam daerah itu sudah ada pengaturan keamanan khusus untuk gereja. Kami kini berada dalam fase penyelamatan dan setelah itu selesai kami akan menyelidiki apa yang salah," tambahnya.

Seorang guru, Nazir Khan, 50 tahun, mengatakan, kebaktian baru saja berakhir dan setidaknya 400 umat saling menyapa ketika terjadi sebuah ledakan besar. "Sebuah ledakan besar mengempaskan saya di lantai dan begitu saya kembali sadar, ledakan kedua terjadi dan saya melihat orang-orang yang terluka di mana-mana," kata Khan kepada kantor berita AFP.

Tayangan televisi menunjukkan sejumlah ambulans bergegas untuk membawa mereka yang terluka ke rumah sakit. Para kerabat yang berduka berkumpul di luar gereja dan meneriakkan sejumlah slogan terhadap polisi terkait kelalaian dalam pengamanan.

Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif, mengecam keras pengeboman itu. "Teroris itu tidak punya agama dan menyasar orang yang tidak bersalah jelas bertentangan dengan ajaran Islam dan semua agama," katanya dalam sebuah pernyataan. Sharif mengatakan, "Tindakan kejam dari terorisme mencerminkan kebrutalan dan pola pikir yang tidak manusiawi dari para teroris itu." Dia menyampaikan rasa solidaritas kepada komunitas Kristen dan simpati yang mendalam kepada anggota keluarga para korban.

Hanya ada dua persen dari 180 juta populasi Pakistan yang beragama Kristen. Komunitas Kristen sebagian besar miskin dan mengeluhkan meningkatnya diskriminasi.

Komisi AS tentang Kebebasan Beragama Internasional telah memperingatkan bahwa risiko bagi kaum minoritas Pakistan telah mencapai tingkat krisis. Tahun 2010, seorang perempuan Kristen dijatuhi hukuman mati karena dakwaan penghujatan. Tahun 2009, di kota Gojra, massa membakar 77 rumah dan menewaskan tujuh orang setelah ada rumor bahwa sebuah kitab suci Al Quran telah dinodai. Tahun lalu seorang gadis muda Kristen mendekam tiga minggu di penjara setelah dituduh menghujat. Kasusnya kemudian dicabut tapi gadis itu beserta keluarganya telah bersembunyi sejak itu karena takut akan keamanan mereka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.