Kompas.com - 20/09/2013, 07:59 WIB
Presiden AS Barack Obama dan Presiden Suriah Bashar al-Assad. AFPPresiden AS Barack Obama dan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
EditorEgidius Patnistik
Banyak yang telah dikatakan dan ditulis tentang "garis merah" setelah sebulan yang lalu Suriah diduga melanggar batas yang telah ditekankan Presiden Amerika Barack Obama setahun sebelumnya.

Serangan udara Amerika yang diantisipasi banyak pihak tidak juga dilancarkan, dan kini para pakar bertanya-tanya apakah "garis merah" internasional lainnya akan dihormati, khususnya tentang Iran dan senjata nuklir.

Presiden baru Iran akan berkunjung ke New York minggu depan untuk menghadiri Majelis Umum PBB, di mana banyak pihak mengharapkan awal baru untuk memastikan bahwa negaranya tidak mengembangkan senjata nuklir.

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Hassan Rohani saling bertukar surat bernada damai dengan Presiden Obama, memerintahkan pembebasan 11 tahanan politik dan mengatakan Iran tidak akan pernah menjadi negara nuklir.

Tetapi, masyarakat internasional ingin tetap menekan Iran, melalui sanksi dan ancaman kekerasan. Sejak Presiden Obama memutuskan untuk tidak mengebom Suriah setelah negara itu diduga menggunakan senjata kimia—sehingga melanggar apa yang dikenal sebagai "Garis Merah Obama"—kini muncul kekahawatiran bahwa Iran mungkin merasa lebih bebas untuk mengembangkan senjata nuklir.

Obama mengatakan, "Pertama-tama saya tidak menetapkan garis merah. Dunia yang menetapkan garis merah." Obama mengacu pada Protokol Geneva tahun 1925 yang melarang senjata kimia di seluruh dunia.

Jika masyarakat internasional, khususnya Amerika, tidak akan menggunakan kekerasan untuk menegakkan larangan yang telah berlaku sejak lama itu, wartawan Iran Amir Taheri mengatakan akan lebih sulit untuk menekan Iran agar membatasi program nuklirnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Posisinya sudah lemah. Tapi, kemunduran soal Suriah telah melemahkan posisi Amerika lebih jauh," ujar Taheri.

Tetapi, tidak semua pakar sepakat bahwa isu senjata kimia Suriah secara langsung terkait dengan masalah nuklir Iran. Kepala Institut Internasional bagi Studi Strategis London, John Chipman, mengatakan, serangan Suriah itu merupakan tantangan unik, dan responsnya belum tentu akan menjadi preseden.

"Cara pemerintahan Obama dalam menangani krisis Suriah, terutama dalam beberapa minggu terakhir, belum tentu akan menentukan cara Pemerintah Amerika mendatang dalam menghadapi krisis keamanan yang berbeda baik di Timur Tengah maupun Asia Pasifik," ulas Chipman.

Para pakar mencatat jika Iran berhasil mengembangkan senjata nuklir, potensi bahayanya jauh lebih besar daripada kekhawatiran akan senjata kimia Suriah.

Amir Taheri mengatakan, Iran sebaiknya tidak menguji apakah Presiden Obama akan menegakkan "garis merah" pada program nuklirnya.

Beberapa ahli mengatakan rencana saat ini untuk mendorong Suriah menyerahkan senjata kimia melalui diplomasi, cukup memberi isyarat "garis merah" ke Iran bahwa negara itu juga akan menghadapi konsekuensi yang besar jika menjadi kekuatan nuklir.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.