Kompas.com - 19/09/2013, 22:51 WIB
Amira Osman Hamed (35) harus berurusan dengan pengadilan Sudan akibat tidak mau menutupi rambutnya seperti diwajibkan undang-undang moralitas yang diterapkan negeri tersebut. AFPAmira Osman Hamed (35) harus berurusan dengan pengadilan Sudan akibat tidak mau menutupi rambutnya seperti diwajibkan undang-undang moralitas yang diterapkan negeri tersebut.
EditorErvan Hardoko
KHARTOUM, KOMPAS.com - Seorang perempuan Sudan yang menolak menutup rambutnya seperti diharuskan undang-undang moralitas negeri itu menghadiri sidang, Kamis (19/9/2013).

Amira Osman Hamed (35), nama perempuan itu, mengatakan dia siap mempertahankan haknya mengurai rambut tanpa harus ditutupi sebagai perlawanan terhadap aturan yang dia sebut sebagai undang-undang Taliban.

"Pembela meminta pengadilan untuk mencabut tuntutan terhadap perempuan ini dan meminta sidang ditunda hingga 4 Oktober," kata kuasa hukum Amira, Moezz Hadhra.

Kasus Amira ini mendapatkan perhatian dan dukungan dari para aktivis hak-hak sipil dan merupakan kasus terbaru terkait undang-undang moralitas Sudan yang diberlakukan sejak Presiden Omar al-Bashir berkuasa pada 1989.

"Mereka menginginkan kami tampil seperti perempuan Taliban," kata Amira dalam wawancara dengan AFP belum lama ini.

Akibat penolakannya menutup rambut, Amira didakwa melanggar pasal 152 undang-undang moralitas yang mengatur cara berpakaian yang sopan.

Amira mengatakan, dia tengah mendatangi sebuah kantor pemerintah di Jebel Aulia, tak jauh dari ibu kota Khartoum pada 27 Agustus lalu, saat seorang polisi dengan kasar memintanya untuk mentup rambutnya.

"Undang-undang ini mengubah perempuan Sudan dari korban menjadi kriminal," tambah Amira, seorang pakar komputer ini.

"Undang-undang ini menyerang harga diri rakyat Sudan," tambah dia.

Pada 2009, kasus yang menimpa jurnalis perempuan Lubna Ahmed al-Hussein mengundang simpati seluruh dunia dan memperlihatkan kepada dunia betapa terbatasnya hak-hak perempuan Sudan.

Lubna dihukum denda karena mengenakan pakaian longgar di ruang publik namun dia menolak membayar denda itu.

Akibat penolakannya, Lubna sempat mendekam selama satu hari di dalam tahanan, sebelum serikat jurnalis Sudan membayarkan dendanya.

Sepuluh perempuan lain yang ditangkap bersama Lubna saat itu di sebuah restoran mendapatkan hukuman cambuk masing-masing 10 kali.



Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X