MA Banglades Perintahkan Hukum Gantung buat Petinggi Partai Islam

Kompas.com - 17/09/2013, 13:09 WIB
Polisi Banglades berjaga-jaga di sebuah jalan raya di Dirstrik Thakurgaon, sebelah utara Dhaka, setelah bentrok dengan pendukung partai Jamaat-e-Islami, Jumat (1/3/2013). STR/AFPPolisi Banglades berjaga-jaga di sebuah jalan raya di Dirstrik Thakurgaon, sebelah utara Dhaka, setelah bentrok dengan pendukung partai Jamaat-e-Islami, Jumat (1/3/2013).
EditorEgidius Patnistik
DHAKA, KOMPAS.COM — Mahkamah Agung Banglades, Selasa (17/9/2013), menghukum mati seorang pejabat senior dari oposisi Islam atas pembunuhan dalam perang kemerdekaan melawan Pakistan tahun 1971.

Abdul Quader Molla, 65 tahun, pemimpin tertinggi keempat Partai Jamaat-e-Islami, menjadi politisi pertama yang dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung negara itu setelah MA menolak permohonan untuk membebaskannya dari segala tuduhan. Peradilan di tingkat MA, yang dipimpin hakim ketua Muzammel Hossain, memperberat hukuman awal yang dijatuhkan pengadilan kejahatan perang yang kontroversial di negara itu berupa hukuman seumur hidup dan menerapkan hukuman mati.

"Mahkamah meningkatkan hukuman seumur hidup menjadi hukuman mati," kata Jaksa Ziad Al Malum kepada kantor berita AFP. Ia menambahkan, putusan tersebut merupakan keputusan mayoritas 4:1 di Mahkamah Agung.

Pembela Molla, Tajul Islam, mengatakan, "Kami terkejut dengan putusan tersebut. Ini pertama kalinya dalam sejarah peradilan di Asia Selatan bahwa hukuman pengadilan telah ditingkatkan oleh Mahkamah Agung."

Hukuman awal berupa hukuman seumur hidup yang dijatuhkan Februari lalu memicu protes luas, termasuk oleh para pengunjuk rasa yang berhaluan sekuler yang marah atas hukuman yang dianggap ringan itu. Putusan itu dan putusan berikutnya oleh Pengadilan Kejahatan Internasional menyebabkan kerusuhan berbulan-bulan yang dilakukan kelompok Islam dan kelompok sekuler. Sedikitnya 100 orang tewas dalam kerusuhan tersebut.

Puluhan ribu kaum sekuler selama berminggu-minggu pada awal tahun ini berkumpul di alun-alun di kota Dhaka. Mereka menuntut eksekusi atas Molla, menggambarkan dia sebagai tukang Jagal dari Mirpur, yang bertanggung jawab atas pembunuhan ratusan penduduk desa tak berdosa di pinggiran kota Dhaka selama perang kemerdekaan itu.

Para pengujuk rasa memaksa parlemen untuk mengubah undang-undang kejahatan perang, yang memungkinkan kejaksaan mengajukan banding atas putusan tersebut dan mengupayakan hukuman mati di Mahkamah Agung. Golongan Islam, pada gilirannya, juga mengadakan demonstrasi tandingan di seluruh negeri, menyebut hukuman itu bermuatan politis, dan memicu bentrokan antara polisi dan pendukung Jamaat-e-Islami.



Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X