Kompas.com - 16/09/2013, 08:03 WIB
EditorEgidius Patnistik
KAIRO, KOMPAS — Operasi militer Mesir untuk membasmi kantong-kantong kelompok radikal bersenjata di Semenanjung Sinai memasuki pekan kedua. Militer Mesir, Minggu (15/9), menggelar serangan darat dengan mengerahkan pasukan infanteri dalam jumlah besar. Mereka didukung puluhan tank dan helikopter tempur Apache.

Wartawan Kompas Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir, melaporkan, militer mengerahkan pasukan khusus antiteroris yang disebut satuan 999 sebagai ujung tombak dalam operasi tersebut. Sebelumnya, militer mengutamakan serangan udara untuk menggempur wilayah yang diduga tempat bersembunyi kelompok radikal bersenjata itu.

Bunyi ledakan dahsyat terdengar di Desa Abu Rafiah, selatan kota Rafah, bersamaan dengan gerak maju pasukan infanteri. Asap hitam akibat ledakan itu membubung tinggi dan terlihat dari kejauhan.

Militer mengumumkan wilayah selatan kota Rafah dan Sheikh Zuweid sepanjang sekitar 20 kilometer tertutup bagi umum. Wartawan dan pekerja media dilarang mendekati wilayah tersebut. Semua sarana komunikasi, seperti telepon, internet, dan televisi, diputus.

Militer menutup pintu gerbang Rafah yang menghubungkan Mesir dan Jalur Gaza, Palestina, selama lima hari berturut-turut sejak Rabu pekan lalu, dengan dalih kondisi keamanan belum kondusif.

Pasukan keamanan juga membatasi gerak nelayan Palestina di lepas pantai Rafah. Sehari sebelumnya, Angkatan Laut Mesir, menembaki kapal nelayan Palestina dan menahan dua nelayan Palestina.

Juru bicara militer Kolonel Ahmad Muhammad Ali dalam konferensi pers di Kairo, Minggu, menayangkan rekaman gambar operasi militer di Sinai utara yang berhasil menyita berbagai jenis senjata, amunisi, dan kendaraan. Militer juga menyita 10 ton bahan peledak jenis TNT.

Ali mengatakan, operasi militer akan dilanjutkan hingga tujuan tercapai. Ia mengakui, memburuknya situasi keamanan di Gurun Sinai akibat kurang perhatian pemerintah. Hal ini dimanfaatkan kelompok tertentu untuk dijadikan basis aktivitas teroris.

Menurut Ali, kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata di Gurun Sinai belakangan ini tak hanya mengancam keamanan nasional, tetapi juga regional. Kekerasan di Gurun Sinai utara melonjak sejak penggulingan Presiden Muhammad Mursi pada 3 Juli.

Pejabat militer yang dikutip harian Asharq al-Awsat mengungkapkan, memasuki pekan kedua, tinggal sembilan kantong kelompok bersenjata di Sinai utara yang tersisa, dengan anggota sekitar 200 orang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.