Ironi Negara Peraih Hadiah Nobel Ekonomi

Kompas.com - 15/09/2013, 10:29 WIB
Pedagang saham membuat transaksi di menit terakhir menjelang bel penutupan di New York Stock Exchange, 27 Agustus 2013 di New York City. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 170 poin di tengah kekhawatiran kemungkinan serangan AS terhadap Suriah. JOHN MOORE / GETTY IMAGES / AFPPedagang saham membuat transaksi di menit terakhir menjelang bel penutupan di New York Stock Exchange, 27 Agustus 2013 di New York City. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 170 poin di tengah kekhawatiran kemungkinan serangan AS terhadap Suriah.
EditorEgidius Patnistik
Siapa pun yang belajar ilmu ekonomi pasti tahu bahwa pajak adalah salah satu instrumen redistribusi pendapatan. Dengan pendapatan, pemerintah bisa meningkatkan jaminan sosial, bantuan kepada warga kurang beruntung. Inilah yang juga dicanangkan Presiden AS Barack Obama dengan program Medicare.

Akan tetapi, bukan itu yang dikehendaki kelompok Republiken AS selama bertahun-tahun, terutama sejak era kepemimpinan almarhum Ronald Reagan (1980-1988), yang terkenal sangat antipajak.

Pada tahun 2003, ketika Presiden George W Bush berencana menekan tingkat pajak, ekonom peraih Hadiah Nobel, Joseph E Stiglitz, sudah mengingatkan dampak negatifnya di kemudian hari. Stiglitz mengkritik pengurangan pajak yang akan melumpuhkan sektor keuangan Pemerintah AS. Ia juga mengingatkan pemborosan anggaran yang tak penting untuk invasi Irak.

Pandangan peraih Hadiah Nobel Ekonomi lain, Paul Krugman, tentang kerasukan korporasi dan sistem ekonomi yang tak memperhatikan kaum tertinggal AS juga tak didengar.

Kebijakan ekonomi AS yang amburadul tidak saja menyebabkan kebangkrutan secara teknis keuangan negara AS, tetapi juga menyebabkan timbunan utang hingga mencapai 105 persen dari total produk domestik bruto. Utang menumpuk juga karena biaya perang.

Mencapai rekor

Tragedi lain yang tercatat dan mencapai rekor adalah kesenjangan pendapatan antara kelompok 1 persen warga terkaya AS dan 99 persen sisanya, yang meningkat pada periode 2009-2012. Bahkan, kesenjangan itu adalah yang paling tinggi sejak malaise atau resesi besar pada tahun 1929.

Inilah hasil studi secara saksama yang dilakukan para ekonom dari University of Berkeley, Paris School of Economics, dan Oxford University pada tahun ini. Kesenjangan itu disimpulkan berdasarkan analisis terhadap data dari Internal Revenue Service, semacam dinas pendapatan Pemerintah AS. Mereka mengevaluasi data pendapatan sejak tahun 2013.

Pada tahun 2008, ekonomi AS mengalami resesi dan biasanya resesi memperkecil kesenjangan. Namun, di AS, kesenjangan pendapatan malah meningkat setelah tahun 2009 atau setelah puncak resesi pada tahun 2008.

Pendapatan kelompok 1 persen warga terkaya malah meningkat 31,4 persen pada periode 2009-2012. Di sisi lain, pendapatan kelompok 99 persen sisanya hanya naik 0,4 persen. Kaum kaya semakin kaya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wabah Virus Corona: Jerman Umumkan Penularan Antar-manusia Pertama

Wabah Virus Corona: Jerman Umumkan Penularan Antar-manusia Pertama

Internasional
Quraish Shihab Terima Penghargaan Bintang Tanda Kehormatan dari Mesir

Quraish Shihab Terima Penghargaan Bintang Tanda Kehormatan dari Mesir

Internasional
'Teman Saya Batuk, Orang-orang Melirik dan Menghindar Mas'

"Teman Saya Batuk, Orang-orang Melirik dan Menghindar Mas"

Internasional
Pria Jepang yang Tak Pernah ke China Terkena Virus Corona

Pria Jepang yang Tak Pernah ke China Terkena Virus Corona

Internasional
Asal Wabah Virus Corona yang Mematikan Terungkap

Asal Wabah Virus Corona yang Mematikan Terungkap

Internasional
China Akui Kekurangan Alat-alat Medis untuk Perangi Virus Corona

China Akui Kekurangan Alat-alat Medis untuk Perangi Virus Corona

Internasional
Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Internasional
Korban Meninggal karena Virus Corona di China Melonjak Jadi 106 Orang

Korban Meninggal karena Virus Corona di China Melonjak Jadi 106 Orang

Internasional
Virus Corona Merebak, 16 Negara di Dunia Umumkan Kasus Positif

Virus Corona Merebak, 16 Negara di Dunia Umumkan Kasus Positif

Internasional
Jerman Umumkan Kasus Pertama Virus Corona di Negaranya

Jerman Umumkan Kasus Pertama Virus Corona di Negaranya

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Perkembangan Korban Meninggal Virus Corona | 3 Roket Hantam Kedubes AS di Irak

[POPULER INTERNASIONAL] Perkembangan Korban Meninggal Virus Corona | 3 Roket Hantam Kedubes AS di Irak

Internasional
Berkendara Sambil Mandi, 2 Pria di Vietnam Didenda Rp 1 Juta

Berkendara Sambil Mandi, 2 Pria di Vietnam Didenda Rp 1 Juta

Internasional
Hubungan Mulai Mesra, Israel Izinkan Warganya Pergi ke Arab Saudi secara Resmi

Hubungan Mulai Mesra, Israel Izinkan Warganya Pergi ke Arab Saudi secara Resmi

Internasional
Sibuk Merawat Pasien Virus Corona, Tim Medis Pakai Popok Dewasa

Sibuk Merawat Pasien Virus Corona, Tim Medis Pakai Popok Dewasa

Internasional
Ibu Ini Dituduh Bunuh Bayinya yang Baru Lahir dengan Dimasukkan ke Mesin Cuci

Ibu Ini Dituduh Bunuh Bayinya yang Baru Lahir dengan Dimasukkan ke Mesin Cuci

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X