Kompas.com - 12/09/2013, 09:34 WIB
EditorEgidius Patnistik
ROMA, KOMPAS.COM - Wartawan Italia Domenico Quirico, Selasa (10/9), mengatakan, ia dan guru dari Belgia, Pierre Piccinin, mendapat penghinaan rutin setiap hari selama lima bulan ditahan di Suriah. Keduanya ”diperlakukan bagai binatang” oleh para penculik mereka.

Koresponden perang untuk harian La Stampa itu telah dibebaskan dan kembali ke Italia, Minggu malam, dan menulis pengalamannya di harian itu. Pria berusia 62 tahun itu mengatakan, ia dan Piccinin masuk Suriah pada 6 April dikawal oleh anggota Tentara Pembebasan Suriah (FSA).

Dalam perjalanan di dekat Qusayr, tidak jauh dari perbatasan Lebanon, mereka ditangkap. Quirico mengatakan, kemungkinan besar mereka dikhianati anggota FSA. Mereka dianiaya oleh para oposan rezim Damaskus yang berasal dari kelompok al-Faruk, dan digiring ke sebuah rumah di Qusayr.

Menurut Quirico dalam tulisannya, para oposan menculik mereka dan orang-orang lain untuk mendapatkan uang tebusan. Ia dan Piccinin mengalami penderitaan ”mengerikan dan luar biasa” sampai membuat mereka berusaha melarikan diri.

Pada bulan Juni lalu, menyusul serangan kelompok Hezbollah di Qusayr, Quirico dan Piccinin berusaha kabur bersama ribuan warga sipil Suriah.

Selama ”eksodus” itu, Quirico menuturkan, dia meminjam telepon seluler dari seorang tentara oposisi yang terluka untuk menelepon ke rumahnya. ”Itulah satu-satunya sikap belas kasihan yang saya terima selama 152 hari dalam penculikan,” katanya.

Menyakitkan

Menurut dia, perlakuan kasar dan tak manusiawi, termasuk dilecehkan, acap kali diterimanya bersama Piccinin. ”Anak-anak dan orang-orang tua telah mencoba menyakiti kami. Mungkin saya mengungkapkan ini dalam istilah yang terlalu etis. Di Suriah saya benar-benar mengalami, negara itu jahat,” katanya.

Quirico menulis, ”Kami diperlakukan seperti binatang, dikurung dalam kamar kecil dengan jendela tertutup sekalipun gerah, dilemparkan di kasur jerami, dan makan makanan sisa. Dalam hidup saya, saya tak pernah merasa penghinaan harian seperti itu.”

Menurut Quirico, para penculiknya sempat dua kali berpura-pula mengeksekusi mereka. Salah satu di antaranya, oposisi meletakkan kepalanya ke tembok dan menodongkan senjata ke arahnya. ”Selama masa-masa tak berkesudahan, saya malu. Ini menakutkan. Ketakutan telah menyulut emosi Anda,” katanya.

”Barat percaya mereka. Namun, dari yang saya alami sendiri, kelompok yang menculik kami itu memperlihatkan sebuah fenomena yang mengerikan tentang revolusi. Kelompok-kelompok penjahat, seperti di Somalia, memeras penduduk lokal,” tulis Quirico tentang pengalamannya.

Perdana Menteri Italia Enrico Letta mengatakan kepada redaktur La Stampa, Mario Calabresi, ”Harapan kami tidak pernah pupus,” tapi tetap berjuang agar Quirico pulang. (AFP/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.