Tony Abbott Bakal Bikin Banyak Diskon Pajak?

Kompas.com - 09/09/2013, 16:50 WIB
Pemimpin konservatif Australia Tony Abbott di luar tempat pemungutan suara di Sydney, Sabtu (7/9/2013). AFP PHOTO / Saeed KHANPemimpin konservatif Australia Tony Abbott di luar tempat pemungutan suara di Sydney, Sabtu (7/9/2013).
|
EditorJosephus Primus
KOMPAS.com - Tony Abbott, perdana menteri terpilih Australia, punya kewajiban merealisasikan janji kampanyenya. Salah satunya, mendongkrak daya saing Negeri Kanguru yang tergerus sejak enam tahun Partai Buruh berkuasa.

Sehari setelah terpilih sebagai orang nomor satu di Australia, hari ini, Senin (9/9/2013), Abbott, mantan siswa sekolah calon pastor Katolik alias seminaris ini mengatakan kalau negerinya terbuka bagi bisnis. "Saya akan melakukan pemotongan-pemotongan pajak,"katanya.

Catatan AFP menunjukkan kalau Australia memang sudah melalui masa-masa meledaknya perolehan fulus dari pertambangan. Ke depan, sejak kini, Australia mesti melalui perlambatan ekonomi.

Sebagai langkah awal, Abbott yang lahir di Inggris, bukan Australia ini, akan membebaskan atau setidaknya mereduksi penarikan pajak karbon. Sebetulnya, ihwal pajak ini juga menjadi andalan Partai Buruh demi menarik minat calon pemilih. Sayang, lantaran Kevin Ruud gagal menang, niat Partai Buruh pun kandas.

Konsumen

Pajak karbon adalah ongkos oleh negara-negara industri maju terkait pengurangan pemanasan global. Beleid global ini juga diadaptasi oleh Australia. Sedikitnya, 370 perusahaan besar Australia terkena kewajiban membayar pajak ini. Tapi, masalah muncul lantaran ujung dari pembiayaan pajak ini berimbas pula kepada konsumen. Meski, penghematan paling besar ada di sektor tarif listrik dan gas.

Sampai kini, ada dua cara pembayaran pajak karbon. Pertama, pembayaran dengan harga tetap. Kedua, pembayaran harga mengambang.

Banyak negara-negara industri maju seperti China, Jerman, Perancis, dan Inggris memilih cara kedua. Soalnya, harganya lebih murah ketimbang yang pertama.

Di Australia, pajak karbon untuk harga tetap besarnya 24,15 dollar AS per ton emisi. Sementara, dengan harga mengambang, banderolnya cuma 6 dollar AS per ton.

Kalau mengikuti skema Kevin Ruud, Australia di bawah kepemimpinan Abbott bakal menerapkan gaya mengambang 1 Juli 2014. Kebijakan ini, empat tahun ke depan bakal menghemat penarikan pajak karbon hingga 3,8 miliar dollar AS.

Andai terwujud, efek pengurangan pajak karbon itu bakal meluas pada diskon-diskon pajak lainnya. Maka, logika ekonominya, kondisi ini bakal mendongkrak daya saing Australia. Soalnya, meski mampu bertahan dengan dengan produk domestik bruto (GDP) 2,6 persen per tahun serta rerata angka pengangguran 5,7 persen dari total populasi 23 juta jiwa, pendapatan Australia belum begitu menanjak.

Sampai kini, data PBB sampai akhir 2012 menunjukkan pendapatan per kapita Australia 42.460 dollar AS. Sementara, GDP-nya ada di posisi 970,764 miliar dollar AS.

ABC Salah satu peternakan sapi di Australia

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X