Kompas.com - 04/09/2013, 12:36 WIB
Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon (kanan) dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry (kiri) bertemu sebelum rapat Dewan Keamanan PBB di markas PBB di New York, Amerika Serikat, Kamis (25/7/2013). AFP/John Moore/Getty ImagesSekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon (kanan) dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry (kiri) bertemu sebelum rapat Dewan Keamanan PBB di markas PBB di New York, Amerika Serikat, Kamis (25/7/2013).
EditorEgidius Patnistik
NEW YORK, KOMPAS.COM - Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, Selasa (3/9), memperingatkan, setiap tindakan "hukuman" terhadap Suriah terkait dugaan serangan senjata kimia bulan lalu akan menjadi ilegal jika tanpa persetujuan Dewan Keamanan atau bukan karena alasan membela diri.

AS dan Perancis telah menyalahkan rezim Presiden Suriah, Bashar Al Assad, atas dugaan serangan pada 21 Augustus lalu dan sedang mempertimbangkan serangan militer dalam menanggapi hal itu. Serangan itu hampir pasti akan terjadi tanpa persetujuan Dewan Keamanan. Soalnya, Rusia dan China, yang merupakan anggota Dewan Keamanan, telah secara konsisten menggunakan hak veto mereka untuk memblokir setiap tindakan terhadap rezim Assad. Pemerintahan Obama berpendapat, serangan senjata kimia tidak boleh dibiarkan begitu saja hanya karena kelambanan Dewan Keamanan.

"Seperti yang saya sudah berulang kali tegaskan, Dewan Keamanan punya tanggung jawab utama bagi perdamaian dan keamanan internasional," kata Ban dalam sebuah konferensi pers. "Penggunaan kekuatan militer hanya sah jika dalam konteks pertahanan diri sesuai dengan pasal 51 Piagam PBB dan atau ketika Dewan Keamanan menyetujui tindakan tersebut."

Dia juga memperingatkan, sebuah serangan militer terhadap Suriah bisa memicu lebih banyak gejolak dan pertumpahan darah dalam krisis yang telah menewaskan lebih dari 100.000 orang tersebut. "Saya memperhatikan argumen bahwa serangan itu demi mencegah penggunaan senjata kimia di masa depan. Pada saat yang sama, kita harus mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan hukuman pada upaya mencegah pertumpahan darah lebih lanjut dan memfasilitasi resolusi politik dari konflik itu," kata Ban.

Presiden Barack Obama telah mendapat dukungan penting dari para pemimpin di Kongres, Selasa, untuk kemungkinan serangan terhadap Suriah.

Ban tidak menyalahkan pihak manapun atas dugaan serangan di sebuah kawasan pinggiran Damaskus. Ia mengatakan, "Jika terkonfirmasi, setiap penggunaan senjata kimia oleh siapapun dalam keadaan apapun akan menjadi pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan merupakan kejahatan perang yang keterlaluan. Apa pun sumbernya, tuduhan terbaru itu harus menjadi peringatan bagi komunitas internasional," kata Ban.

Dia menekankan, sebuah penyelidikan yang sedang berlangsung oleh para ahli senjata kimia PBB berupaya menyusun fakta-fakta secara obyektif dan tidak memihak.

Pemerintah AS mengatakan, pihaknya punya "keyakinan tinggi" bahwa serangan gas beracun telah terjadi dan itu diluncurkan oleh pemerintah Suriah. Para pejabat AS juga mempertanyakan kemampuan tim PBB untuk menyelidiki kasus itu. Pasalnya, para inspektur PBB itu menghadapi terlalu banyak penundaan saat mencapai lokasi dan hanya mengantongi mandat untuk menentukan apakah senjata kimia telah digunakan dalam serangan itu, bukan tentang siapa yang bertanggung jawab.

Ban mengatakan, sejumlah sampel biologis yang dikumpulkan oleh inspektur akan segera tiba di sejumlah lobaratorium Eropa untuk diuji pada Rabu.



Sumber AP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X