Kompas.com - 03/09/2013, 12:48 WIB
Foto ini menampilkan Presiden Suriah Bashar al-Assad saat menerima Gubernur Hama Anas Abdel Razzaq al-Naem pada Juli 2011. Gubernur Hama tewas dalam serangan bom mobil, Minggu (25/8/2013). Al ArabiyaFoto ini menampilkan Presiden Suriah Bashar al-Assad saat menerima Gubernur Hama Anas Abdel Razzaq al-Naem pada Juli 2011. Gubernur Hama tewas dalam serangan bom mobil, Minggu (25/8/2013).
EditorEgidius Patnistik
PARIS, KOMPAS.COM - Perancis, Senin (2/9/2013), menerbitkan sebuah laporan intelijen yang menuduh rezim Suriah telah menggunakan senjata kimia dalam perang saudara di negara itu. Tuduhan tersebut menguatkan klaim serupa oleh AS sebelumnya.

Sementara itu, Presiden Suriah, Bashar Al Assad, memperingatkan bahwa setiap serangan militer Barat terhadap negaranya akan memicu perang regional tidak terkendali dan menyebarkan "kekacauan dan ekstremisme."

Perang kata-kata itu, termasuk bantahan terhadap tuduhan Barat oleh Rusia yang merupakan sekutu lama Suriah, merupakan bagian dari upaya hiruk pikuk di kedua sisi untuk menggiring opini publik internasional setelah Presiden AS, Barack Obama, mengatakan dia akan mencari persetujuan Kongres sebelum meluncurkan serangan militer terhadap rezim Assad.

Dalam sebuah wawancara dengan harian Perancis, Le Figaro, Assad mengatakan bahwa Suriah telah menantang AS dan Perancis untuk memberikan bukti guna mendukung tuduhan mereka. Namun para pemimpin dua negara itu "tidak mampu melakukan hal tersebut, termasuk di hadapan masyarakat mereka sendiri." "Jika Amerika, Perancis atau Inggris punya sedikit saja bukti, mereka akan menunjukkan hal itu sejak hari pertama," kata Assad, yang mencaci Obama sebagai "lemah" dan berada di bawah tekanan politik dalam negeri AS. "Kami yakin orang yang kuat adalah orang yang mencegah perang, bukan orang yang mengobarkan itu," kata Assad.

Presiden Perancis, Francois Hollande, dan Obama telah menjadi dua pemimpin dunia yang paling vokal yang menyerukan aksi militer terhadap rezim Assad. Keduanya  menuduh Assad telah melakukan serangan dengan senjata kimia mematikan terhadap kawasan pinggiran kota Damaskus yang dikuasai pemberontak pada 21 Agustus.

AS mengatakan punya bukti bahwa rezim Assad berada di belakang serangan itu yang menurut Washington telah menewaskan sedikitnya 1.429 orang, termasuk lebih dari 400 anak-anak. Angka-angka itu jauh lebih tinggi dari jumlah korban tewas yang disampaikan oleh kelompok bantuan Dokter Lintas Batas (Doctors Without Borders) yang hanya menyebut angka 355 orang.

Pemerintah Suriah telah menyangkal tuduhan itu, dan menyalahkan para pejuang oposisi. Dalam wawancara dengan Figaro itu, Assad mempertanyakan apakah serangan itu benar-benar terjadi dan menolak untuk mengatakan apakah pasukannya punya senjata kimia, seperti yang diyakini banyak pihak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jika AS dan Perancis melakukan serangan, "Semua orang akan kehilangan kendali atas situasi ... Kekacauan dan ekstremisme akan menyebar. Ada risiko perang regional," kata Assad.

Untuk mendukung klaimnya, pemerintah Perancis menerbitkan sebuah sinopsis intelijen setebal sembilan halaman pada Senin yang menyimpulkan bahwa rezim Assad telah melancarkan serangan pada 21 Agustus. Serangan itu melibatkan "penggunaan bahan kimia dalam jumlah besar," dan bisa melakukan serangan serupa di masa mendatang.

Secara keseluruhan, laporan Perancis itu hanya memberikan sedikit bukti konkret di luar apa yang para pejabat AS telah sampaikan akhir pekan lalu di Washington. Seiring dengan terbitnya laporan itu, Departemen Pertahanan Perancis mem-posting enam klip video amatir di situs webnya. Video-video itu menunjukkan para korban, beberapa di antaranya telah beredar secara online dan di media internasional.

Dalam wawancara dengan Figaro itu, Assad mengatakan "semua tuduhan didasarkan pada tuduhan teroris dan video tak berdasar yang di-posting di internet."

Laporan Perancis itu tidak membuat referensi khusus tentang lembaga-lembaga yang terlibat atau bagaimana intelijen mengumpulkan bahan tentang serangan itu, selain merujuk pada video mereka yang terluka atau terbunuh, laporan para dokter, dan "evaluasi independen" antara lain dari salah satu dari lembaga bantuan kemanusiaan yang berbasis di Paris, yaitu kelompok Dokter Lintas Batas (Doctors Without Borders) tiga hari setelah serangan itu.

Seorang pejabat pemerintah Perancis, yang tidak mau disebut jatidirinya karena ia bukan pejabat berwenang untuk berbicara tentang masalah itu terkait dengan sensivitas masalah tersebut, mengatakan analisis itu ditulis oleh para agen mata-mata DGSE dan unit intelijen militer, DRM, dan didasarkan pada citra satelit, gambar video, dan sumber-sumber di darat, ditambah sampel yang dikumpulkan dari dugaan serangan kimia pada April lalu.

Laporan itu mengatakan "sangat tidak mungkin" bahwa oposisi Suriah telah memalsukan gambar-gambar penderitaan anak-anak yang muncul secara online. Laporan itu juga mengatakan, intelijen menunjukkan pihak oposisi "tidak punya sarana untuk melakukan sebuah serangan yang besar dengan bahan kimia."

Pada saat serangan itu, rezim Assad takut akan kemungkinan serangan oposisi di Damaskus. Rezim itu, menurut laporan tersebut, sedang berupaya untuk menggagalkan kemungkin serangan dan mengamankan tempat-tempat strategis demi terus mengontrol Damaskus.

Sinopsis itu juga mengatakan dinas intelijen Perancis telah mengumpulkan contoh urin, darah, tanah dan amunisi dari dua serangan pada April di Saraqeb dan Jobar, yang menegaskan adanya penggunaan gas sarin.



Sumber AP
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X