Kompas.com - 24/08/2013, 04:37 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani
BAGHDAD, KOMPAS.com — Bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 25 orang di Irak, Jumat (23/8/2013), sementara 7 orang juga tewas dalam serangan lain pada hari yang sama. Para diplomat dan analis berpendapat otoritas Irak gagal mengatasi akar persoalan kekerasan di negara itu.

Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki berjanji menekan kekerasan dengan kampanye melawan militan, yang dia sebut sebagai salah satu yang terbesar sejak penarikan pasukan Amerika dari negara itu pada Desember 2011.

Sepanjang Jumat, kekerasan melanda seluruh negeri, berupa serangan senjata dan bom, baik di kawasan Syiah maupun Sunni di negara itu. Bom bunuh diri yang paling mematikan dari seluruh insiden kekerasan hari itu dilakukan di sebuah taman yang ramai di utara Baghdad, Jumat malam waktu setempat.

Selain 25 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri tersebut, 36 orang yang lain terluka. Sementara itu, sejak beberapa pekan terakhir, terjadi peningkatan serangan terhadap sejumlah lokasi kafe yang mencolok atau tempat orang-orang berkumpul, diperkirakan untuk mendapatkan target semaksimal mungkin.

Beberapa saat sebelumnya, sekelompok orang bersenjata menyerang sebuah rumah yang dihuni keluarga Syiah di utara Baghdad, dan menewaskan 3 orang. Sementara itu, di Hila, kota di selatan Baghdad yang juga didominasi Syiah, terjadi juga kekerasan bersenjata yang menewaskan 2 orang.

Lebih dari selusin tembakan terpisah dan ledakan terjadi di Baghdad dan Mosul, yang dihuni oleh mayoritas kelompok Sunni. Dalam serangan ini, 2 orang tewas dan 12 yang lain terluka.

Juru bicara pusat komando gabungan di Irak utara mengatakan pasukan keamanan menangkap tujuh militan Sunni yang diduga terkait dengan Al Qaeda.

Kerusuhan meningkat di Irak sepanjang tahun ini, ke tingkat baru sejak 2008 ketika negara tersebut mulai menghadapi konflik sektarian yang hingga sekarang telah menelan korban puluhan ribu jiwa. Data AFP menunjukkan sepanjang 2013 saja setidaknya sudah 3.600 orang tewas.

Analis dan diplomat menghubungkan peningkatan pertumpahan darah ini dengan kemarahan di kalangan Irak minoritas Sunni atas dugaan beragam ketidakadilan yang dialami di bawah pemerintah dengan dominasi kalangan Syiah.

Perdana Menteri Irak, Jumat, tampil menyampaikan tiga pernyataan utama. Pertama, dia berjanji menekan kekerasan di negaranya yang dia akui sudah sangat mengganggu di Irak. Lalu, dia membuat pernyataan mengutuk pengeboman di Tripoli, Lebanon, yang menewaskan tak kurang dari 29 orang dan melukai 350 orang yang lain. Pernyataan ketiga Maliki terkait dengan dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah.

Irak selepas perang teluk dan penarikan pasukan Amerika, selain menghadapi masalah keamanan, juga dinilai gagal menyediakan layanan dasar seperti listrik dan air bersih untuk warganya karena korupsi yang meluas. Perseteruan politik telah melumpuhkan pemerintahan, dan selama beberapa tahun terakhir nyaris tak ada produk peraturan perundangan yang terbit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.