Kompas.com - 21/08/2013, 20:00 WIB
EditorErvan Hardoko
SEOUL, KOMPAS.com — Seorang perempuan asal Korea Utara membuat pengakuan mengejutkan di depan panel Komisi PBB di Seoul, Korea Selatan.

Perempuan bernama Je Heon-a (34), di hadapan panel PBB, mengaku melihat seorang ibu dipaksa membunuh bayinya yang baru lahir saat ditahan di salah satu penjara Korea Utara.

"Itu adalah kali pertama saya melihat bayi yang baru lahir, dan saya sangat bahagia," kata Jee dengan lirih.

Namun, kebahagiaan Jee segera berubah menjadi horor mengerikan. Seorang penjaga kemudian meminta perempuan itu membunuh bayi yang yang masih merah tersebut.

"Penjaga datang dan meminta ibu itu menenggelamkan bayi tersebut ke dalam sebuah ember berisi air," kenang Jee.

"Ibu itu memohon penjaga agar tidak membunuh bayinya, tetapi penjaga tersebut terus memukuli perempuan itu. Dengan tangan gemetar, ibu itu akhirnya menenggelamkan bayinya ke dalam ember berisi air," tambah Jee.

Tak lama, tangisan bayi itu berhenti. Seorang perempuan tua yang membantu kelahiran bayi itu kemudian mengeluarkan jasad si bayi dari dalam ember.

Jee adalah satu dari sejumlah mantan tahanan di Korea Utara yang memberikan kesaksian di hadapan panel PBB.

Ini adalah kali pertama pelanggaran hak asasi manusia Korea Utara diperiksa oleh panel ahli PBB.

Sejauh ini, Korea Utara yang dipimpin generasi ketiga keluarga Kim membantah telah melakukan pelanggaran HAM. Negeri itu memutuskan tidak mengakui kerja komisi PBB dan tidak memberi akses para penyelidiknya untuk datang ke negeri itu.

Kini, para penyelidik PBB mengandalkan pengakuan dan kesaksian warga Korea Utara yang hidup di selatan untuk menceritakan pengalaman mengerikan mereka.

Jee menambahkan, selama di penjara, makanan sangat sedikit sehingga dia dan para tahanan lainnya harus bertahan hidup dengan menyantap katak yang diasinkan.

"Mata semua orang cekung. Semua orang tampak seperti hewan. Katak digantung, dikuliti, lalu diasinkan. Kami semua makan katak itu," tambah Jee.

Saksi lainnya, Shin Dong Hyuk, mengatakan, dia dipaksa untuk menyaksikan eksekusi ibu dan saudara laki-lakinya yang tertangkap saat mencoba kabur dari penjara itu.

Shin menambahkan, dia mendapatkan hukuman berat saat menjatuhkan sebuah mesin jahit.

"Saat itu saya mengira tangan saya akan ditebas. Saya bersyukur mereka hanya memotong jari saya," kenang dia.

Diperkirakan terdapat 150.000 hingga 200.000 tahanan di berbagai kamp tahanan Korea Utara. Para pembelot mengatakan, di penjara-penjara itu para tahanan mati karena kekurangan gizi atau bekerja terlalu berat.

Kini, setelah lebih dari setahun memerintah, Kim Jong Un belum menunjukkan tanda-tanda untuk mengubah model kepemimpinan keras yang dijalankan sang kakek, Kim Il Sung, dan ayahnya, Kim Jong Il.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Sky News
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.