Kompas.com - 19/08/2013, 15:42 WIB
|
EditorJosephus Primus
KOMPAS.com — Hujan deras berikut banjir bandang hingga Senin (19/8/2013) seperti "membunuh" kehidupan di Kota Manila, ibu kota Filipina. Laman Bangkok Post hari ini bahkan mewartakan ada banyak bagian kota yang terendam banjir hingga leher orang dewasa.

Di kawasan pertanian, Utara Kota Manila, dikabarkan air bah sudah menewaskan satu orang. "Sekolah, kantor pemerintah bahkan pusat bursa efek terpaksa ditutup," kata media tersebut.

Alhasil, aktivitas 12 juta warga Kota Manila banyak yang terganggu. "Kami berusaha menyelamatkan barang-barang dari banjir yang datang seperti tiba-tiba ini," kata seorang warga
Kota Manila J R Pascual.

Pascual tinggal di kawasan kelas menengah, Distrik Cavite. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Manila.

Persoalan bagi Pascual adalah jalan dari Cavite ke pusat kota tak dapat dilalui. Genangan air terbilang tinggi di distrik itu, soalnya. Pengendara sepeda motor pun gagal melalui banjir setinggi rata-rata di atas semeter tersebut.

Tak hanya itu, banyak warga di belahan kota lainnya malahan hanya bisa bertahan di bagian atas rumah. Mereka hanya bisa menyaksikan laju air banjir menghantam jendela rumah.

Sementara, banjir lantaran hujan yang turun sejak akhir pekan lalu juga melanda kawasan lain di luar Kota Manila. Catatan dari Dewan Manajemen Penanggulangan Risiko Bencana Filipina mengatakan rata-rata genangan air bah mencapai 1,2 meter.

Dewan tersebut juga mengatakan kalau hujan deras disebabkan oleh terpaan badai tropis Trami. Hujan dan banjir gara-gara badai itu meliputi area 500 kilometer persegi di seluruh Filipina.  

Badai

Filipina memang acap diterpa badai tropis. Paling tidak, dalam setahun, ada 20 badai tropis yang melanda negara kepulauan di Asia Tenggara tersebut.

Pada Agustus setahun silam, 51 orang meninggal dunia dan 2 juta jiwa lainnya terkena dampak hujan deras selama 48 jam tak henti. Lokasi genangan air terparah justru di Kota Manila.

Sebelumnya, pada 2009, Kota Manila juga menerima bencana topan Ketsana. Kala itu, 80 persen dari luas kota terendam banjir.

Belum tuntas bencana oleh Ketsana, Filipina mesti menanggung dampak badai Parma. Tercatat, badai yang datang saling menyusul itu membunuh seribu warga.

Topan paling mematikan adalah Bopha yang melanda Filipina setahun silam. Korban tewas lebih dari seribu orang. Sementara korban hilang di atas angka 800 orang.

Seperti negara berkembang lainnya, Filipina, termasuk ibu kota Manila, masih terkendala penataan wilayah. Pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi membuat berbagai lahan resapan dan bahkan hutan berubah menjadi kota.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.