Kompas.com - 15/08/2013, 12:57 WIB
EditorEgidius Patnistik
HAVANA, KOMPAS.com — Mantan pemimpin Kuba Fidel Castro mengatakan, ia memutuskan untuk mundur dan mengalihkan kekuasaan kepada adiknya, Raul, karena ia didiagnosis dengan penyakit mematikan pada 2006.

Dalam artikel yang diterbitkan untuk memperingati ulang tahun ke-87, Fidel Castro mengatakan, ia tidak menduga akan bertahan dari penyakit yang menyerang perutnya dan hidup untuk waktu lama. "Saya tidak pernah membayangkan hidup saya masih akan berlanjut selama tujuh tahun."

Castro berkuasa sejak Revolusi Kuba pada 1959.

Artikel panjang itu diterbitkan oleh surat kabar resmi Granma pada hari Rabu (14/8/2013), satu hari setelah ulang tahunnya.

Castro menanggalkan kekuasaan untuk menjalani perawatan pada 2006, tetapi baru resmi mengundurkan diri sebagai panglima tertinggi dan presiden Kuba pada Februari 2008. "Begitu saya memahami bahwa penyakit itu fatal, saya tidak ragu melepas tugas saya sebagai presiden," katanya dalam artikel itu.

Senapan AK gratis

Castro juga mengungkapkan bahwa Kuba menerima senjata dari Korea Utara pada awal 1980-an. Pengiriman senjata dari Korea Utara itu datang setelah pemimpin Uni Soviet Yuri Andropov memperingatkan bahwa negaranya tidak lagi siap untuk membela pulau komunis tersebut. "Ia mengatakan bahwa jika diserang oleh Amerika Serikat, kami harus bertempur sendiri," tulis Castro.

Namun, Uni Soviet kemudian memperbarui komitmen mereka untuk memasok senjata ke Kuba. Kuba memutuskan mengumpulkan senjata dari "teman-teman lain" untuk mempersenjatai "satu juta pejuang Kuba".

"Kamerad Kim Il Sung, seorang tentara veteran teladan, mengirim 100.000 senapan AK dan amunisi tanpa meminta bayaran satu sen pun," kata Castro. Pemimpin Korea Utara itu meninggal pada 1994 dan kekuasaannya dilanjutkan oleh anaknya.

Hal itu terungkap saat tim pakar PBB menyelidiki insiden di Kanal Panama mengenai kapal Korea Utara yang membawa kiriman senjata rahasia dari Kuba. Kapal itu ditangkap bulan lalu karena dicurigai mengangkut narkotika, tetapi aparat Panama menemukan persenjataan, termasuk dua jet tempur dari era Soviet disembunyikan di kargo gula.

Kuba kemudian mengakui bahwa "senjata sisa" itu dikirim ke Korea Utara untuk diperbaiki.

Panama menyerukan kepada PBB untuk menyelidiki apakah pengiriman itu melanggar sanksi yang diterapkan kepada Korea Utara terkait program nuklir.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.