Kompas.com - 09/08/2013, 10:19 WIB
Sidang pembacaan vonis terhadap Badri Hartono alias Toni, terdakwa kasus terorisme yang juga merupakan ketua Al Qaeda Indonesia di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (27/6/2013). Badri divonis 10 tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pidana percobaan pembuatan bahan peledak dan pelatihan militer Alsadad RudiSidang pembacaan vonis terhadap Badri Hartono alias Toni, terdakwa kasus terorisme yang juga merupakan ketua Al Qaeda Indonesia di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (27/6/2013). Badri divonis 10 tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pidana percobaan pembuatan bahan peledak dan pelatihan militer
|
EditorEgidius Patnistik
SYDNEY, KOMPAS.com — Sebuah penelitian di Australia menyimpulkan bahwa motivasi seseorang menjadi teroris lebih banyak disebabkan karena pengaruh keluarga atau teman, bukannya dari berbagai bahan bacaan ekstrem yang tersedia di internet. Penelitian yang berlangsung selama empat tahun dilakukan oleh Universitas Monash di Melbourne, bersama dengan polisi Australia, dengan melakukan wawancara terhadap lebih dari 100 orang ekstremis di Australia, Indonesia, Eropa, dan Amerika Utara.

Menurut laporan ABC hari Kamis (8/8/2013), para peneliti juga berbicara dengan para pakar kontra terorisme guna memahami cara mencegah tindakan kekerasan oleh para ekstremis. Penelitian itu mengatakan bahwa para anggota militan dan teroris Australia memang berulang kali membaca bahan-bahan ekstrem di internet, tetapi banyak faktor lain yang lebih penting dalam membentuk perilaku mereka. Jaringan sosial dalam bentuk teman dan keluarga, termasuk kontak dengan mereka yang berjuang di luar negeri atau sudah pernah mengikuti kamp latihan teroris, menjadi pengaruh lebih kuat.

Peneliti Debra Smith mengatakan, mereka yang bergabung dengan kelompok teroris mirip dengan mereka yang terlibat dalam kegiatan anti-sosial seperti pengguna narkoba. "Bila saja seseorang tumbuh dalam keadaan normal, tetapi mereka kemudian memiliki hubungan emosional dengan seseorang yang terlibat dalam tindak kekerasan," kata Smith.

"Mungkin bisa disebut tidak beruntung bahwa mereka terlibat dengan seseorang yang melihat tindak kekerasan sebagai hal yang wajar dan sah," tambah Smith.

Seorang peneliti lainnya, Shandon Harris-Hogan, mengatakan, meski terorisme merupakan masalah yang masih relatif kecil di Australia, ada saja orang yang tertarik melakukan tindakan ekstrem. "Di Australia, kami belum melihat adanya contoh individu yang direkrut khusus ke dalam jaringan teroris. Yang terjadi adalah mereka yang memang tertarik dengan tindakan ekstrem saling mencari tahu dan akhirnya membentuk sebuah kelompok, jadi tidak ada rekrutmen aktif," kata Harris-Hogan.

Menurut laporan koresponden Kompas.com di Australia L Sastra Wijaya, dalam kesimpulannya, para peneliti mengatakan, tindakan keras terhadap kelompok ekstrem ini kurang efektif dalam mengatasi radikalisme dibandingkan intervensi dini.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.