Kompas.com - 09/08/2013, 04:18 WIB
EditorTjatur Wiharyo
RIYADH, KOMPAS.com - Pemerintah Arab Saudi menyatakan, Kamis (8/8/2013), aparat keamanan menangkap dua orang asal Yaman dan Chad karena dicurigai merencanakan serangan-serangan.

Penangkapan itu diumumkan beberapa hari setelah AS menutup kedutaan-kedutaan besarnya di kawasan Timur Tengah karena ancaman Al Qaeda.

Kedua orang itu ditangkap pada akhir Juli setelah mereka berbagi informasi di media sosial mengenai serangan-serangan dalam waktu dekat, kata Kantor Berita Arab Saudi SPA mengutip seorang pejabat kementerian dalam negeri.

Menurut SPA, penyelidikan masih terus dilakukan terhadap kedua orang itu, yang menggunakan telefon seluler dan komunikasi elektronik terenkripsi.

Arab Saudi, negara pengekspor utama minyak dan sekutu penting AS di Teluk, menjadi sasaran utama Al Qaeda, yang melancarkan serangan-serangan di negara itu yang menewaskan ratusan orang satu dasawarsa lalu.

Pekan lalu Washington mengumumkan penutupan sementara kedutaan-kedutaannya di kawasan itu.

Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), yang berpangkalan di Yaman, negara tetangga Arab Saudi, merupakan salah satu sayap paling aktif dari kelompok militan itu.

SPA tidak menyebutkan kaitan antara penangkapan-penangkapan itu dan penutupan kedutaan tersebut.

Arab Saudi menangkap ribuan tersangka dalam 10 tahun terakhir dan menuduh mereka terlibat dalam Al Qaeda. Serangan-serangan jarang terjadi sejak 2006 ketika negara itu menumpas operasi domestik kelompok militan tersebut.

Sejumlah aktivis hak asasi manusia mengatakan, beberapa dari mereka yang ditangkap pada masa silam adalah pembangkang damai yang menuntut perubahan politik, namun Riyadh membantah hal itu.

Pada 2009, pelaku bom bunuh diri Al Qaeda berusaha membunuh kepala keamanan Pangeran Mohammed bin Nayef, yang kini menjadi menteri dalam negeri. Namun Mohammed bin Nayef tidak terluka serius.

Anggota-anggota Al Qaeda yang selamat di Arab Saudi yang bertanggung jawab atas serangan-serangan 2003-2006 diyakini melarikan diri ke Yaman dan bergabung dengan militan lokal untuk membentuk AQAP.

Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.

AS ingin presiden baru Yaman, yang berkuasa setelah protes terhadap pendahulunya membuat militer negara itu terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, menyatukan angkatan bersenjata dan menggunakan mereka untuk memerangi kelompok militan itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.