Kompas.com - 05/08/2013, 08:52 WIB
EditorEgidius Patnistik
HARARE, KOMPAS.COM - Robert Mugabe, Minggu (4/8), dipastikan kembali menjadi Presiden Zimbabwe setelah 33 tahun berkuasa. Mugabe dinyatakan menang telak atas saingan utamanya, Perdana Menteri Morgan Tsvangirai, dalam pemilu 31 Juli. Tsvangirai langsung mengecam pemilu itu sebagai lelucon dan penuh kecurangan.

Dalam usianya yang kini 89 tahun, Mugabe akan menjadi pemimpin terlama di dunia dengan memasuki lima tahun masa jabatan ketujuh. Dia kini menjadi presiden tertua kedua di dunia setelah Presiden Israel Shimon Peres (90) dan bisa menjadi yang tertua jika bertahan hingga akhir masa jabatannya dalam usia 94 tahun, lima tahun mendatang.

Komisi Pemilu Nasional Zimbabwe sehari sebelumnya mengumumkan Mugabe menang telak atas Tsvangirai. Kemenangan Mugabe ini disambut keprihatinan Amerika Serikat, Inggris, dan Australia karena menilai adanya penyimpangan mendasar dalam pelaksanaan pemilu.

Komisi pemilu mengumumkan, Mugabe meraih 61 persen suara pemilu presiden dan mayoritas mutlak dalam pemilu parlemen. Tsvangirai, yang penuh optimisme akan menang dan mendesak Mugabe untuk mundur, hanya meraih 34 persen suara dalam pemilu presiden.
Rencana boikot

Tsvangirai (61), yang telah tiga kali maju sebagai calon presiden menantang Mugabe, mengecam pemilu diwarnai penipuan dan pencurian. Dia menyerukan rakyat untuk menggugat hasil pemilu ke pengadilan. Partai Gerakan bagi Perubahan Demokrasi (MDC) yang dipimpinnya juga akan memboikot lembaga pemerintahan.

”Kami tak akan bergabung bersama pemerintah. Kami akan pergi ke pengadilan,” kata Tsvangirai. Menurut dia, pemilu yang diwarnai penipuan dan pencurian telah menyeret Zimbabwe ke dalam krisis konstitusi, politik, dan ekonomi.

Tsvangirai membela sikap MDC untuk bergabung dalam skema pembagian kekuasaan yang dicetuskan Mugabe setelah hasil Pemilu 2008 yang menjadikannya perdana menteri. Namun, dalam praktiknya, dia merasa dizalimi oleh Mugabe.

Tsvangirai mengatakan akan menyerahkan berkas penyimpangan dan ketidakabsahan pemilu ke 15 negara anggota Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC). Dia meminta SADC segera menggelar pertemuan puncak untuk menyikapi kasus Zimbabwe ini.

Sementara itu, seorang pejabat Komisi Pemilu Zimbabwe, Mkhululi Nyathi, mengundurkan diri. Menurut dia, pemilu lalu tak memenuhi standar keadilan.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry melukiskan pemilu Zimbabwe sangat cacat. ”AS tak percaya hasil yang diumumkan hari ini merupakan ekspresi kredibel dari kehendak rakyat Zimbabwe,” kata Kerry.

Menlu Inggris William Hague dan Uni Eropa menyampaikan keprihatinan serius atas pemilu di bekas koloni Inggris itu. Menlu Australia Bob Carr juga mendesak Zimbabwe menggelar pemilu ulang. Namun, Menteri Pertahanan Zimbabwe Emmerson Mnangagwa menyanggah tudingan itu. ”Pemilu di Zimbabwe demokratis,” katanya. (AFP/AP/REUTERS/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.