Partai Jamaat-e-Islami Dilarang Ikut Pemilu Banglades

Kompas.com - 01/08/2013, 20:54 WIB
Ali Ahsan Mohammad Mujahid (65), tokoh senior partai Jamaat-e-Islami, melambaikan tangan dari dalam mobil yang membawanya dari penjara menuju ke pengadilan di ibu kota Dhaka. Mujahid akhirnya dijatuhi hukuman mati karena dianggap terbukti melakukan kejahatan perang dalam perang kemerdekaan Banglades 1971. STR / AFPAli Ahsan Mohammad Mujahid (65), tokoh senior partai Jamaat-e-Islami, melambaikan tangan dari dalam mobil yang membawanya dari penjara menuju ke pengadilan di ibu kota Dhaka. Mujahid akhirnya dijatuhi hukuman mati karena dianggap terbukti melakukan kejahatan perang dalam perang kemerdekaan Banglades 1971.
EditorErvan Hardoko
DHAKA, KOMPAS.com — Pengadilan Tinggi Banglades, Kamis (1/8/2013), melarang partai Islam terbesar negeri itu, Jamaat-e-Islami, mengikuti pemilihan umum tahun depan.

Keputusan itu diambil setelah pengadilan menilai anggaran dasar Jamaat-e-Islami menentang konstitusi Banglades yang sekuler.

Dalam sidang yang dijaga ketat itu, kuasa hukum Komisi Pemilihan Umum Banglades, Shahdeen Malik, mengatakan, dengan keputusan pengadilan ini maka Jamaat tidak bisa mengusung kandidatnya tahun depan.

"Partai ini masih bisa menjalankan aktivitas politik lain. Jika Jamaat mengamandemen anggaran dasarnya dan berkompromi dengan konstitusi, lalu mendaftarkan diri kembali, Jamaat bisa didaftarkan ulang," kata Shahdeen Malik.

Keputusan pengadilan ini diperkirakan bakal memicu unjuk rasa baru pendukung Jamaat-e-Islami, setelah sebelumnya mereka berunjuk rasa terkait vonis kasus kejahatan perang untuk para tokoh utama partai ini.

Polisi dan pasukan elite Batalion Aksi Cepat dikerahkan di luar gedung pengadilan di pusat kota Dhaka. Namun, sejauh ini belum dilaporkan adanya aksi kekerasan.

Keputusan itu diambil setelah sebelumnya sebuah kelompok penganut Sufi mendaftarkan gugatan pada Januari 2009 yang bertujuan untuk membubarkan Jamaat.

Para pendukung sekularisme telah lama mendesak pembubaran Jamaat-e-Islami atas perannya yang menolak pemisahan Banglades dari Pakistan pada 1971.

Sejumlah pemimpin Jamaat sudah diadili dengan tuduhan melakukan kejahatan perang. Empat orang dari mereka sudah dijatuhi hukuman mati atas dakwaan melakukan pembunuhan, pemerkosaan massal, dan kekerasan berlandaskan agama.



Sumber Telegraph
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X