Australia Kirim 40 Pencari Suaka ke Pulau Manus

Kompas.com - 01/08/2013, 16:47 WIB
Salah satu sudut Pulau Manus, Papua Niugini dengan landasan pacunya. Pulau terpencil ini digunakan Australia sebagai penampungan sementara para pencari suaka yang datang ke Benua Kanguru. www.airport-data.comSalah satu sudut Pulau Manus, Papua Niugini dengan landasan pacunya. Pulau terpencil ini digunakan Australia sebagai penampungan sementara para pencari suaka yang datang ke Benua Kanguru.
EditorErvan Hardoko

CANBERRA, KOMPAS.comAustralia telah mengirimkan kelompok pertama pencari suaka ke Papua Niugini. Langkah ini dilakukan menyusul kebijakan baru negeri itu terkait penanganan masalah pencari suaka.

Sebanyak 40 orang pencari suaka, sebagian besar laki-laki, dari Afganistan dan Iran, diterbangkan dari Pulau Christmas ke Pulau Manus, Papua Niugini.

Menteri Imigrasi Tony Burke mengatakan, kebijakan baru ini merupakan peringatan yang keras bagi para pencari suaka.

Dalam sebuah kesepakatan yang ditandatangani pada 19 Juli, para pencari suaka tiba di Australia dengan menggunakan perahu akan dikirimkan ke Papua Niugini untuk diproses.

Para pencari suaka ini akan ditempatkan secara permanen di Papua Niugini, yang akan menerima investasi infrastruktur dari Australia. Para pencari suaka tidak akan memiliki hak untuk menetap di Australia.

Kritik PBB

Kebijakan Australia dalam mengatasi peningkatan tajam jumlah pencari suaka berperahu dibuat hanya beberapa pekan menjelang pemilu. Sebab, masalah pencari suaka ini akan menjadi masalah penting yang akan dibahas menjelang pemilu.

Dengan mentransfer para pencari suaka, Burke mengatakan bahwa "pedagang manusia tidak memiliki lagi produk untuk dijual".

"Tidak ada celah untuk mengapalkan lagi. Dan kelompok pertama dikirimkan dalam kerangka pelaksanaan kebijakan baru ini," tambah dia.

Perdana Menteri Papua Niugini Peter O'Neill mengatakan kepada media Australia, Kamis (1/8/2013), Australia telah sepakat untuk memberikan dana sekitar 500 juta Australia atau sekitar Rp 46 milliar untuk proyek infrastruktur di Papua Niugini, sebagai bagian dari kesepakatan tentang pencari suaka.

Tetapi, kesepakatan ini menimbulkan kontroversi, dengan kritik yang menuding Australia melalaikan kewajiban dan mengalihdayakan masalah ke negara berkembang.

Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) mengatakan, ada "kekurangan yang signifikan" pada sistem hukum Papua Niugini dalam memproses para pencari suaka.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Internasional
Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Internasional
Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Internasional
Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Internasional
Korea Utara Kembali Gelar 'Tes Krusial'

Korea Utara Kembali Gelar "Tes Krusial"

Internasional
Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

Internasional
Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Internasional
Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Internasional
Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Internasional
Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Internasional
Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Internasional
Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Internasional
Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Internasional
Pria Uganda Mengaku Bisa Bunuh Nyamuk dengan Kentut, Ini Faktanya

Pria Uganda Mengaku Bisa Bunuh Nyamuk dengan Kentut, Ini Faktanya

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X