Pemerintah Kamboja Tolak Seruan Penyelidikan Hasil Pemilu

Kompas.com - 30/07/2013, 15:41 WIB
Perdana Menteri Kamboja Hun Sen memamerkan telunjuknya yang sudah bertinta, sebagai tanda dia sudah menggunakan hak pilih dalam pemilu, Minggu (28/7/2013). Hun Sen dan istrinya, Bun Rany, memilih di salah satu tempat pemungutan suara di Provinsi Kandal.
AFP PHOTO/ TANG CHHIN SOTHYPerdana Menteri Kamboja Hun Sen memamerkan telunjuknya yang sudah bertinta, sebagai tanda dia sudah menggunakan hak pilih dalam pemilu, Minggu (28/7/2013). Hun Sen dan istrinya, Bun Rany, memilih di salah satu tempat pemungutan suara di Provinsi Kandal.
EditorErvan Hardoko
PHNOM PEHN, KOMPAS.com — Pemerintah Kamboja, Selasa (30/7/2013), menolak seruan oposisi untuk menggelar penyidikan internasional terkait tuduhan kecurangan dalam pemilu parlemen yang baru saja digelar.

Amerika Serikat dan Uni Eropa sempat menyatakan keprihatinannya terkait banyaknya "keanehan" dalam pemilu parlemen yang digelar pada Minggu (28/7/2013).

Namun, baik AS maupun Uni Eropa menegaskan, penyelidikan terkait dugaan kecurangan pemilu harus dilakukan otorita penyelenggara pemilu Kamboja.

Pemerintah mengumumkan bahwa Partai Rakyat Kamboja (CPP) pimpinan PM Hun Sen memenangkan 68 kursi dari 123 kursi parlemen.
Jumlah ini menurun tajam dari perolehan dalam pemilu sebelumnya, yaitu 90 kursi.


Sementara itu, oposisi Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) berhasil melipatgandakan perolehan suaranya hingga 55 kursi. Meski perolehan CNRP ini cukup mengejutkan, tetapi belum cukup untuk mendongkel Hun Sen dari tampuk kekuasaan.

Pemimpin CNRP Sam Rainsy mengatakan, lebih dari 1,3 juta nama pemilih hilang dan dia mengeluhkan sulitnya akses media memantau jalannya pemungutan suara serta intimidasi selama masa kampanye.

Namun, Menteri Luar Negeri Ouch Borith, menyangkal semua tuduhan Sam Rainsy.

"Kami mengerahkan lebih dari 10.000 pengawas pemilu nasional dan ada lebih dari 100 pengamat internasional. Semuanya menilai pemilu Kamboja berjalan dengan tenang, bebas, dan adil," ujar Borith dalam sebuah jumpa pers.

"Partai oposisi harus menunjukkan dengan jelas bukti terjadinya kecurangan. Komite Pemilu Nasional sudah mengatakan untuk menyerahkan bukti, jangan hanya berbicara sehingga kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama," tambah dia.

Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Phnom Pehn meminta Komite Pemilihan Umum Nasional (NEC) menggelar sebuah investigasi.

"Kami menyerukan kepada NEC untuk melakukan investigasi menyeluruh dan transparan terkait dugaan kecurangan pemilu," kata juru bicara Kedubes AS, Sean McIntosh.

Adapun Uni Eropa lebih menyerukan agar semua perselisihan pemilu bisa diselesaikan secara adil dan sebaik-baiknya sesuai mekanisme hukum yang tersedia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Reuters
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Erdogan Ancam Bakal 'Hancurkan Kepala' Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Erdogan Ancam Bakal "Hancurkan Kepala" Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Internasional
ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

Internasional
Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Internasional
Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Internasional
Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Internasional
Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Internasional
Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

Internasional
Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Internasional
Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Internasional
Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Internasional
Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Internasional
Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Internasional
Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Internasional
Ubah Kota di Meksiko Jadi Medan Perang, Anak Gembong Narkoba El Chapo Dibebaskan

Ubah Kota di Meksiko Jadi Medan Perang, Anak Gembong Narkoba El Chapo Dibebaskan

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X