Kompas.com - 30/07/2013, 14:12 WIB
Ilustrasi paspor Inggris. ShutterstockIlustrasi paspor Inggris.
EditorErvan Hardoko

LONDON, KOMPAS.com — Kementerian Dalam Negeri Inggris tahun lalu mendapati 100 orang pencari kewarganegaraan ternyata merupakan tersangka penjahat perang.

Sebagian besar dari mereka telah tinggal di negeri kerajaan itu selama beberapa tahun sebelum akhirnya mengajukan permohonan sebagai warga negara.

Para tersangka ini meninggalkan tanah airnya di negara-negara seperti Afganistan, Iran, Irak, Libya, Rwanda, Serbia, dan Sri Lanka.

Kementerian Dalam Negeri Inggris menyatakan bertekad agar negara itu tak menjadi "tempat pengungsian penjahat perang."

Kelompok pembela HAM menyerukan agar para penjahat perang ini diadili di Inggris karena selama ini pengadilan kerap menolak tuntutan untuk mendeportasi seorang tersangka pelanggar HAM dengan alasan ia mungkin akan disiksa atau dibunuh jika kembali ke negaranya.

Angka-angka ini disampaikan oleh Kementrian kepada BBC yang meminta agar informasi tentang jumlah tersangka penjahat perang yang mengajukan permohonan warga negara di Inggris dibuka.

BBC menggunakan pasal UU Kebebasan Informasi untuk mengajukan tuntutan tersebut.

Rekomendasi keras

Selama 15 bulan sejak Januari 2012, menurut Kementerian Dalam Negeri, terdapat hampir 800 kasus menyangkut permohonan dari orang-orang yang disangka menjadi pelaku kejahatan perang atau kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dari daftar tersebut, 99 orang "diberi rekomendasi keras" saat mengajukan permohonan kewarganegaraan, meminta suaka, atau izin tinggal di Inggris.

Berikutnya sudah masuk lagi permohonan 16 tersangka penjahat perang untuk jadi warga Inggris.

Pejabat Imigrasi Inggris sebelumnya menyebut, antara 2005 hingga 2012 teridentifikasi 700-an tersangka penjahat perang masuk Inggris.

Dari 99 tersangka yang sudah diidentifikasi Pemerintah Inggris sebelumnya, tiga orang dikembalikan ke negerinya, 20 ditolak permohonan suakanya, dan 46 lainnya ditolak permohonan kewarganegaraannya meski tetap bisa tinggal di Inggris. Nasib pencari suaka lainnya belum diketahui.

Pada Mei lalu, lima warga Rwanda ditahan di Inggris karena diduga terlibat dalam genosida tahun 1994 yang menewaskan sekitar 800.000 jiwa.

Sebagian dari para tersangka sudah tinggal di Inggris lebih dari sepuluh tahun, salah satu di antaranya pernah bekerja di sebuah panti perawatan di Essex.

Tiga dari tersangka ini masih ditahan, sementara dua sisanya bebas dengan jaminan, tetapi seluruhnya membantah mereka terlibat genosida Rwanda.

Tahun 2009 sejumlah pegiat HAM sempat mengajukan permintaan deportasi paksa kepada empat di antara para tersangka, tetapi Pengadilan Tinggi Inggris menolak dengan alasan ada "risiko nyata" mereka tak akan diadili secara adil di Rwanda.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X