Kompas.com - 27/07/2013, 11:39 WIB
|
EditorErlangga Djumena
CANBERRA, KOMPAS.com — Seorang wanita asal Filipina diperlakukan sebagai budak setiba bekerja di Australia. Ironisnya, wanita tadi bekerja di rumah diplomat asing di ibu kota Australia, Canberra.

Menurut laporan ABC, hari Sabtu (27/7/2013), Gloria (bukan nama sebenarnya) tiba di Australia di tahun 2011, setelah melamar pekerjaan sebagai penjaga rumah di rumah diplomat. Ketika tiba di Canberra, dia merasa ada hal yang tidak beres.

"Saya tidak diberi ranjang untuk tidur selama tiga hari, untung masih ada karpet," katanya.

Meski sudah ada kontrak kerja soal jam kerja, gaji, dan lainnya, Gloria dipaksa bekerja tujuh hari seminggu, hampir 24 jam sehari, dan tidak mendapat bayaran. "Saya diperlakukan seperti tahanan. Saya tidak boleh berbicara, saya tidak boleh keluar rumah, bahkan untuk membuang sampah," kata Gloria. 

Paspornya disita dan gerakannya dibatasi. Bahkan ketika pergi ke pusat pertokoan, istri majikannya akan mengawasinya ketika Gloria hendak pergi ke toilet. Gloria tidak menduga hal seperti ini akan dialaminya di Australia.

Menurut Polisi Federal Australia (AFP), kasus Gloria ini bukan satu-satunya. Sejak tahun 2004, polisi telah menyelidiki lebih dari 380 kasus serupa berkenaan dengan perdagangan manusia, perbudakan, dan kerja paksa. Menurut polisi, 60 persen penyelidikan perdagangan manusia berhubungan dengan industri seks, tetapi laporan adanya kerja paksa di sektor lain juga meningkat.

Jennifer Burn dari lembaga Anti-Perbudakan Australia di University of Technology Sydney mengatakan kerja paksa terjadi di beberapa industri seperti konstruksi, pertanian, kerja pabrik, dan rumah tangga. "Kita tahu bahwa Australia menjadi daerah tujuan bagi pekerja dari Asia Pasifik. Jadi mereka dari Malaysia, China, Korea, Filipina, berdatangan, jadi ini masalah global," sebutnya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Koresponden Kompas.com di Australia L Sastra Wijaya, melaporkan, untuk menangkal masalah tersebut, parlemen federal Australia awal tahun ini meloloskan aturan yang lebih ketat ketika untuk pertama kalinya, pasal kerja paksa diterapkan.

Jaksa Agung Mark Dreyfus mengatakan, aturan ini akan membuat polisi lebih mudah untuk melakukan penyidikan dan penuntutan. "Jadi memaksa seseorang masuk ke dalam situasi seperti perbudakan, dengan menipu atau memaksa seseorang terlibat dalam utang yang tidak bisa dibayar merupakan tindakan kriminal," kata Dreyfus.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X