Kompas.com - 22/07/2013, 10:09 WIB

Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd (kiri), berjabat tangan dengan Sekretaris Nasional George Wright (kanan) sebelum mengambil tempat duduknya di sebuah pertemuan kaukus Partai Buruh di Sydney, Senin (22/7). 

AFP PHOTO / POOL / Paul Miller AFP PHOTO/ POOL/Paul Miller Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd (kiri), berjabat tangan dengan Sekretaris Nasional George Wright (kanan) sebelum mengambil tempat duduknya di sebuah pertemuan kaukus Partai Buruh di Sydney, Senin (22/7). AFP PHOTO / POOL / Paul Miller
|
EditorEgidius Patnistik
SYDNEY, KOMPAS.COM - Unjuk rasa menentang kebijakan terbaru pemerintah Australia mengenai pencari suaka mulai bermunculan di Australia. Hari Minggu ratusan pengunjuk rasa menyampaikan protes mereka di Brisbane, dan hari Senin (22/7) puluhan orang berkumpul di saat PM Kevin Rudd mengadakan pertemuan dengan para anggota partai Buruh.


Hari Jumat, PM Kevin Rudd mengeluarkan kebijakan yang menyatakan bahwa seluruh pencari suaka lewat laut akan dipindahkan ke Papua Nugini dan bila mereka dinilai layak sebagai pengungsi, maka akan dimukimkan di negeri tersebut.

Di Brisbane, para pengunjuk rasa kebanyakan adalah anggota Partai Hijau dan Aliansi Pendukung Pengungsi. Menurut harian The Brisbane Times, pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan "Mencari Suaka bukanlah Tindakan Kriminal."

Di Sydney, dengan menggunakan loudspeaker, puluhan pengunjuk rasa meneriakkan kata-kata "Pengungsi yes, rasisme: no. Kebijakan PNG harus dihentikan. Kevin Rudd anda rasis, kami tidak ingin Howard yang lain."

Howard adalah rujukan terhadap Perdana Menteri Australia terdahulu John Howard yang juga mengeluarkan kebijakan keras guna menghentikan arus pencari suaka ke Australia. Menurut laporan koresponden Kompas.com di Australia, L Sastra Wijaya, dalam pertemuan dengan para anggota Partai Buruh, PM Kevin Rudd selama 20 menit menjelaskan kebijakan terbaru ini. Ini adalah pertemuan terakhir Partai Buruh sebelum pemilu yang sekarang diperkirakan akan berlangsung 30 Agustus.

Sambil menunggu hasil jajak pendapat apakah warga Australia menerima kebijakan terbaru Partai Buruh ini, sebagian media menurunkan tulisan kritis mengenai pilihan Papua Nugini sebagai tempat untuk pengungsi tersebut. "Kebijakan garis keras Rudd akan menjadi bencana." tulis Victoria Stead, seorang peneliti dari RMIT di Melbourne yang pernah melakukan penelitian selama 6 tahun di Papua Nugini, yang menulis di harian The Age.

Menurutnya, Papua Nugini tidak memiliki semua kebutuhan mendasar yang layak untuk menampung para pengungsi. "Bilapun pemerintah Australia nantinya akan membiayai pengurusan para pengungsi ini, maka hal tersebut akan menimbulkan iri hati di kalangan penduduk PNG yang tidak mendapatkannya." kata Stead.

Sementara itu Maria O'Sullivan, seorang ahli hukum dari Monash University juga menulis di The Age mengatakan kebijakan yang diambil oleh Kevin Rudd belum pernah dilakukan pemerintah lain manapun di dunia ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.