Kompas.com - 19/07/2013, 16:18 WIB
EditorErvan Hardoko

KABUL, KOMPAS.com — Perselisihan terkait biaya pabean antara Pemerintah Afganistan dan AS mengganggu proses penarikan mundur peralatan militer AS karena biaya penarikan mundur pasukan ini membengkak beberapa kali lipat.

Pemerintah Afganistan bersikukuh AS berutang jutaan dollar dalam bentuk denda pabean sehingga truk-truk berisi peralatan militer tertahan di perbatasan dan tak akan dilepas jika denda pabean itu belum dibayar.

Akibatnya, militer Amerika mulai mengangkut peralatan pentingnya lewat udara yang tentu saja biayanya jauh lebih mahal.

"Biayanya lima hingga tujuh kali lebih mahal menggunakan pesawat terbang ketimbang lewat daratan melintasi Pakistan," kata seorang pejabat Kementerian Pertahanan AS yang tidak mau disebutkan namanya.

Masalah ini muncul saat Pemerintah Afganistan meminta militer AS membayar 1.000 dollar AS atau hampir Rp 10 juta untuk setiap kontainer yang meninggalkan negeri itu karena dianggap tidak memiliki dokumen bea dan cukai yang valid.

Secara total, Pemerintah Afganistan mengklaim AS berutang denda pabean sebesar 70 juta dollar AS atau sekitar Rp 711 miliar.

Namun, Pemerintah AS mengatakan apa yang diklaim Afganistan bertentangan dengan kesepakatan sebelumnya.

Pada Mei lalu, seorang pengawas rekonstruksi Afganistan memperingatkan Kongres AS bahwa Kabul menuntut biaya pabean dan pajak yang sangat besar.

Tuntutan Kabul ini dianggap menyalahi kesepakatan sebelumnya yang terkait impor barang AS dan status pasukan AS di negeri yang dikoyak perang itu.

Dalam beberapa kasus, Pemerintah Afganistan menghalangi truk-truk yang membawa pasokan makanan dan bahan bakar untuk militer AS akibat perselisihan paben itu.

Namun, Pemerintah Afganistan mengklaim bahwa para kontraktor AS yang mengirimkan peralatan militer ke negeri itu tidak memasukkan dokumen-dokumen yang benar sejak 2010.

"Untuk mendapatkan uang yang belum dibayarkan Washington, satu-satunya jalan adalah menghalangi semua truk melintasi perbatasan," kata Direktur Jenderal Departemen Pabean Afganistan, Najibullah Wardak, kepada harian The Washington Post.

"Apa lagi yang bisa kami lakukan?" tambah Wardak.

Sementara itu, Pentagon mengakui adanya "sejumlah tantangan" terkait penarikan mundur pasukan AS di perbatasan Afganistan-Pakistan.

"Perselisihan ini terpusat pada interpretasi terkait proses pabean Afganistan," kata juru bicara Pentagon, Kolonel Bill Speaks.

"Komandan pasukan NATO sedang berunding dengan para pejabat Afganistan. Kami yakin masalah ini akan segera teratasi," lanjut Speaks.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.