Kompas.com - 18/07/2013, 20:59 WIB
Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny, saat mendengarkan putusan hakim atas dirinya, Kamis (18/7/2013). Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara lima tahun untuk Navalny. VASILY MAXIMOV / AFPPemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny, saat mendengarkan putusan hakim atas dirinya, Kamis (18/7/2013). Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara lima tahun untuk Navalny.
EditorErvan Hardoko


MOSKWA, KOMPAS.com
 — Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, Kamis (18/7/2013), dijatuhi hukuman penjara karena penggelapan uang dari sebuah perusahaan kayu milik negara.

Dia membantah semua tuduhan dan mengatakan pengadilan atasnya bermotif politik.

Sebelum diborgol dan dibawa dari gedung pengadilan, Navalny mendesak para pendukungnya untuk meneruskan kampanye antikorupsi dan menulis pesan di Twitter, "Jangan duduk dan tidak melakukan apa pun."

Wartawan BBC di Moskwa, Daniel Sandford, melaporkan para pendukungnya menangis ketika mendengar vonis dan kemarahan meluas di situs jejaring sosial.

Pria berusia 37 tahun tersebut merupakan pemimpin gerakan perlawanan atas partai Persatuan Rusia pimpinan Presiden Vladimir Putin dan secara teratur menulis blog tentang kasus korupsi di negara itu.

Para pendukungnya mengatakan akan menggelar unjuk rasa menentang keputusan atas Navalny, yang terpilih sebagai pemimpin aliansi kelompok oposisi Rusia lewat pemilihan melalui internet pada Oktober tahun lalu.

Tanggapan internasional

Uni Eropa menyatakan keputusan itu memicu "pertanyaan serius" atas kondisi hukum Rusia sementara Amerika Serikat menyebutnya amat mengecewakan.

"Kami amat kecewa dengan keputusan bersalah Navalny dan motif politik yang tampak dalam pengadilannya," tutur Duta Besar Amerika Serikat di Moskwa, Michael McFaul, dalam pernyataannya.

Sementara itu, Perancis mengatakan bahwa belum semua langkah hukum ditempuh dan hukuman bisa jadi "ditinjau kembali".

Navalny pernah mengatakan secara terbuka bahwa dia suatu waktu ingin mencalonkan diri sebagai presiden Rusia.

Beberapa waktu lalu dia mencalonkan diri sebagai wali kota Moskwa, tetapi tim kampanyenya mengatakan setelah vonis ini dia akan mundur dari pencalonan.

Mereka juga menyerukan agar para pendukungnya memboikot pemilihan wali kota Moskwa.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X