Kompas.com - 12/07/2013, 18:04 WIB
EditorErvan Hardoko
AMMAN, KOMPAS.com — Kerajaan Jordania mengaku lega dengan tumbangnya pemerintahan Muhammad Mursi yang disokong Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Sejumlah pengamat mengatakan, kelegaan Jordania ini tak lepas dari kelompok oposisi yang dimotori Ikhwanul Muslimin yang menuntut reformasi pemerintahan.

Raja Jordania Abdullah II dengan cepat memberi selamat kepada Presiden interim Mesir Adli Mansour beberapa jam setelah nama mantan hakim itu diumumkan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Fattah al-Sisi.

"Jordania sangat menyambut kejatuhan Mursi. Seperti halnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, Jordania juga sangat bermasalah dengan Ikhwanul Muslimin," ujar Oraib Rintawi, Direktur Lembaga Studi Politik Al-Quds di Amman, Jordania.

"Tak bisa dipungkiri Pemerintah Jordania kini merasa lega. Bahkan, pendukung Ikhwanul Muslimin di Jordania kini meragukan kelangsungan rencana reformasi Islam mereka," tambah Rintawi.

"Mereka perlu upaya lebih keras untuk meyakinkan rakyat soal kredibilitas serta menjembatani pemisah antara mereka dan sekutu tradisionalnya," Rintawi menegaskan.

Rintawi menambahkan, partai-partai politik Islam moderat dari Mesir hingga Maroko memenangkan kursi mayoritas parlemen sebagai imbas dari demokrasi yang dibawa revolusi "Arab Spring".

"Menyusul kegagalan kelompok Islam di Mesir, kini rakyat semakin sulit memercayai Ikhwanul Muslimin saat mereka berbicara soal pluralisme dan demokrasi," lanjut Rintawi.

Pada 1946, Jordania mengakui Ikhwanul Muslimin sebaga sebuah organisasi amal. Pada 1992, Ikhwanul membentuk organisasi sayap politiknya, Front Aksi Islam (IAF), yang tak pernah menyerukan pembentukan negara Islam Jordania.

IAF tidak memiliki wakil di parlemen Jordania karena Ikhwanul Muslimin memboikot pemilihan umum Januari lalu,

Ikhwanul Muslimin sebenarnya memiliki pendukung di akar rumput yang sangat banyak. Keberadaan mereka ditoleransi rezim. Namun, hubungan mereka dengan pemerintah tetap tegang.

"Apa yang terjadi di Mesir sangat memengaruhi kelompok Islam di Jordania," kata analis politik Hassan Abu Hanieh.

"Jordania menyambut baik keruntuhan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan berharap itu menjadi akhir kekuatan kelompok Islam sehingga pemerintah mudah menyingkirkan kelompok oposisi," tambah Hanieh.

Kelompok oposisi Islam di Jordania menggelar aksi unjuk rasa setiap pekan sejak 2011, menuntut reformasi politik dan reformasi serta pemberantasan korupsi yang lebih serius.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
Sumber
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.