Kompas.com - 12/07/2013, 09:11 WIB
EditorEgidius Patnistik
KOMPAS.com — Belasan kadet Muslim di Akademi Angkatan Udara Amerika di Colorado melakukan shalat maghrib setelah mereka membuka sepatu bot dan wudu dengan air dari botol minuman di kampus mereka. Mereka memasuki sebuah tenda yang dipakai sebagai tempat bersembayang bagi Muslim di Jack Valley.

Ini bukanlah Ramadhan biasa bagi jemaah shalat maghrib yang dipimpin Imam Mohamed Jodeh. Meskipun Muslim di seluruh dunia menjalankan puasanya mulai dari matahari terbit hingga tenggelam, tetapi para kadet ini makan sebelum waktu maghrib.

Seorang kadet keturunan Tunisia, Mohammed Gallalah, mengatakan, sejak duduk di bangku SMA, ia tidak pernah satu hari pun luput berpuasa selama bulan Ramadhan. Tetapi, para kadet itu harus makan selama menjalani latihan fisik. Perut kosong bisa menjadi penghalang bagi mereka.   

Imam Jodeh, yang menjadi penghubung antara warga Muslim di Akademi Angkatan Udara dan para rohaniwan di sana, menawarkan pemecahan masalah itu dengan mengeluarkan sebuah fatwa, atau keputusan ulama yang menetapkan bahwa kadet dianggap sebagai musafir atau orang yang sedang bepergian, selama mereka menjalani latihan fisik di Jack Valley.

“Seorang musafir boleh menunda puasa, tapi ia harus menggantinya setelah bulan Ramadhan berakhir,” kata Jodeh. "Para kadet itu dianggap musafir karena akademi itu bukan rumah mereka, maka mereka punya hak untuk memperpendek rakaat sembahyang dan tidak berpuasa.”

Setelah shalat maghrib, Jodeh berbicara kepada para kadet tentang pentingnya gerakan-gerakan shalat.

“Di dalam agama Islam, ada makna dan alasan untuk segala sesuatu,” jelasnya, sambil memeragakan posisi tangan yang tepat ketika bersembayang. "Pada waktu kita memberi hormat, bagaimana kita melakukannya? Gerakannya seragam. Kita memuja Allah Mahabesar, dan kita menghormati kiblat dengan mengangkat kedua tangan kita setinggi bahu kita.”

Kadet Omar Obeidat mengatakan, para perwira pelatih di akademi itu juga bekerja dengan para kadet untuk mengatur jadwal shalat hari itu.

"Kita harus mengaturnya dengan para pelatih, dan kita hanya diberi waktu lima menit tiap kali shalat,” kata Obeidat, asal Irbid, Jordania.

Mayor Darren Duncan, rohaniwan militer setempat, mengatakan, memenuhi keperluan keagamaan dan spiritual para kadet bermanfaat untuk pembangunan watak mereka.

“Konsep kami adalah membangun watak pemimpin melalui pembentukan spiritual," kata Duncan. "Ini merupakan dukungan keagamaan bagi siapa pun untuk semua hari besar, yaitu Ramadhan, Kwanzaa bagi warga Afrika Barat, dan Hanukah bagi Yahudi.”

Kadet di kelas yang lebih tinggi juga mendapat akses ke jadwal ibadah biasa, dan bagi mereka yang sedang menjalani latihan lapangan, juga dapat membicarakannya dengan rohaniwan militer untuk mengatur waktu ibadah mereka, kata Duncan. Bulan Ramadhan akan berakhir sekitar tanggal 7 Agustus.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.