Kompas.com - 10/07/2013, 10:32 WIB
Sebuah foto yang diambil di dalam kabin pesawat Aeroflot yang terbang dari bandara Moscow Sheremetyevo di Moskwa ke Havana pada tanggal 24 Juni 2013, yang memperlihatkan kursi nomor 17A di dekat jendela dalam kondisi kosong. Kursi itu, menurut data penerbangan pihak Aeroflot, seharusnya menjadi tempat duduk buron pembocor rahasia intelijen AS, Edward Snowden, dan asisten hukumnya, Sarah Harrison. AFP PHOTO/ KIRILL KUDRYAVTSEVSebuah foto yang diambil di dalam kabin pesawat Aeroflot yang terbang dari bandara Moscow Sheremetyevo di Moskwa ke Havana pada tanggal 24 Juni 2013, yang memperlihatkan kursi nomor 17A di dekat jendela dalam kondisi kosong. Kursi itu, menurut data penerbangan pihak Aeroflot, seharusnya menjadi tempat duduk buron pembocor rahasia intelijen AS, Edward Snowden, dan asisten hukumnya, Sarah Harrison.
EditorEgidius Patnistik
MOSKWA, KOMPAS.com — Pembocor rahasia intelijen AS, Edward Snowden, belum secara resmi dapat suaka di Venezuela, kata WikiLeaks, Selasa (9/7/2013). Kelompok anti-kerahasiaan itu membuat pengumuman tersebut di Twitter, Selasa malam, setelah politikus Rusia membuat tweet pada pagi hari itu yang menyatakan bahwa mantan kontraktor badan mata-mata AS itu telah menerima suaka politik dari negara Amerika Selatan tersebut.

"Edward Snowden belum secara resmi dapat suaka di Venezuela," kata WikiLeaks di Twitter. Ahli hukum WikiLeaks, yaitu Sarah Harrison asal Inggris, membantu Snowden dan melakukan perjalanan bersamanya ke Moskwa. Lembaga itu menambahkan, "Negara-negara yang bersangkutan akan membuat pengumuman jika dan saat yang tepat datang. Pengumuman itu kemudian akan dikonfirmasi oleh kami."

Juru bicara tak resmi Kremlin, Alexei Pushkov, telah menimbulkan spekulasi ketika ia kemarin membuat tweet bahwa buron itu, yang diyakini berada di Rusia dan dicari otoritas AS karena membocorkan rahasia keamanan, telah menerima tawaran dari Venezuela. Tweet itu kemudian dihapus beberapa menit setelah di-posting. Segera setelah posting-annya hilang, Pushkov mengirim sebuah pesan lain yang mengatakan, klaimnya berdasarkan laporan di televisi Vesti, sebuah saluran televisi berita milik negara.

Namun, tidak ada informasi semacam itu yang dapat ditemukan di situs web Vesti dan tidak ada kantor berita Rusia yang melaporkan bahwa Vesti pernah memberitakan hal itu. Saluran televisi itu tidak bisa segera dihubungi untuk dimintai komentar dan Kremlin menolak berkomentar tentang perkembangan yang terjadi hari kemarin.

Snowden, yang membongkar rincian program intelijen AS untuk memonitor aktivitas internet warganya, tiba di Bandara Sheremetyevo Moskwa pada 23 Juni dan diyakini akan menuju Kuba. Namun, dia tidak memasuki pesawat menuju Havana, Kuba, walau sudah check in. Dia diyakini terdampar di ruang transit bandara sejak saat itu.

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, telah menawarkan suaka kepada Snowden. Bolivia dan Nikaragua juga mengatakan bahwa mereka akan memberikan suaka kepada buron asal Amerika itu. Ekuador mengatakan akan mempertimbangkan permintaan suaka.

Maduro mengatakan, tawaran terhadap Snowden mungkin merupakan "suaka kemanusiaan kolektif pertama" di dunia.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, AS telah mencabut paspor Snowden dan tidak jelas apakah ia punya dokumen perjalanan yang akan diperlukan saat meninggalkan Moskwa.

Maduro mengatakan, Snowden harus memutuskan kapan ia terbang ke sini jika ia akhirnya ingin melakukan perjalanan ke sini. Hari Jumat ia mengatakan, "Sebagai kepala negara, pemerintah Republik Bolivarian Venezuela memutuskan untuk menawarkan suaka kemanusiaan bagi pemuda Amerika Edward Snowden sehingga ia bisa hidup (tanpa) ... mengalami penyiksaan dari kekaisaran," kata Maduro, merujuk kepada AS.

Dia menyampaikan tawaran itu dalam pidato yang menandai ulang tahun kemerdekaan Venezuela. Tidak segera jelas apakah ada syarat dalam tawaran itu. "Demi martabat Amerika ... Saya memutuskan untuk menawarkan suaka kemanusiaan ke Edward Snowden," kata Maduro dalam sebuah parade militer yang menandai hari kemerdekaan negara itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Kearifan Pilar Singa Ashoka

    Kearifan Pilar Singa Ashoka

    Internasional
    Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

    Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

    Internasional
    Amerika Meniru Indonesia?

    Amerika Meniru Indonesia?

    Internasional
    Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

    Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

    Internasional
    Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

    Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

    Internasional
    Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

    Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

    Internasional
    Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

    Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

    Internasional
    Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

    Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

    Internasional
    Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

    Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

    Internasional
    Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

    Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

    Internasional
    [KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

    [KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

    Internasional
    Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

    Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

    Internasional
    Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

    Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

    Internasional
    Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

    Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

    Internasional
    Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

    Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

    Internasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X