Kompas.com - 09/07/2013, 14:18 WIB
Warga mengibarkan bendera Mesir saat kembang api dilontarkan oleh kubu oposisi yang merayakan kejatuhan Presiden Mesir Muhammad Mursi, di Alun-alun Tahrir, Rabu (3/7/2013). Militer mengambil alih kekuasaan, dengan menyatakan penangguhan konstitusi, menunjuk pemimpin sementara, dan berjanji menjadwalkan segera pemilu Mesir. AP PHOTO / AMR NABILWarga mengibarkan bendera Mesir saat kembang api dilontarkan oleh kubu oposisi yang merayakan kejatuhan Presiden Mesir Muhammad Mursi, di Alun-alun Tahrir, Rabu (3/7/2013). Militer mengambil alih kekuasaan, dengan menyatakan penangguhan konstitusi, menunjuk pemimpin sementara, dan berjanji menjadwalkan segera pemilu Mesir.
EditorEgidius Patnistik
DUBAI, KOMPAS.COM - Korupsi memburuk di sebagian besar negara-negara Arab sejak revolusi mereka tahun 2011, walau kemarahan terhadap para pejabat korup merupakan alasan utama pemberontakan rakyat, demikian menurut sebuah jajak pendapat publik yang dirilis, Selasa (9/7).

Survei itu, yang dilakukan Transparency International, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) global yang mempelajari penyuapan di seluruh dunia, tampaknya menghancurkan harapan bahwa Arab Spring akan menghasilkan pemerintahan dan dunia usaha yang lebih bersih di kawasan itu. Frustrasi berlanjut publik Arab terhadap korupsi dapat merusak upaya pemerintah untuk mengembalikan stabilitas politik, menghambat pertumbuhan ekonomi dan investasi asing.

Dari empat negara yang mengalami pergantian pemerintahan selama Arab Spring, mayoritas responden di tiga negara, yaitu Mesir, Tunisia dan Yaman, merasakan tingkat korupsi yang meningkat dalam dua tahun terakhir, demikian hasil survei itu. Di Mesir, 64 persen responden mengatakan bahwa korupsi memburuk, di Tunisia, 80 persen yang mengatakan hal itu. Pengecualian adalah Libya. Di sana hanya 46 persen yang mengatakan negara itu telah menjadi semakin korup.

Di Mesir, 78 persen responden mengatakan polisi korup atau sangat korup. Proporsinya adalah 65 persen untuk peradilan dan 45 persen untuk militer, salah satu lembaga paling dihormati di negara itu yang menggulingkan Presiden Muhamad Mursi yang islamis pekan lalu.

Survei tersebut juga menunjukkan tumbuhnya kekecewaan publik di banyak negara-negara Arab lain yang tidak mengalami revolusi tetapi Arab Spring telah meningkatkan ketegangan politik di negara itu.

Di Lebanon, 84 persen responden mengatakan bahwa korupsi telah memburuk dalam dua tahun terakhir, di Maroko 56 persen dan di Irak 60 persen. Di Yordania rasionya adalah 39 persen, sedangkan 44 persen mengatakan tingkat suap tetap sama.

Christoph Wilcke, direktur Transparency International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan polisi, lembaga peradilan, dan partai politik di negara-negara-negara Arab perlu direformasi untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. Namun dalam gejolak sosial dan ekonomi yang menyusul Arab Spring membuat pemerintah hanya memiliki sedikit waktu atau energi untuk mendorong reformasi tersebut.

"Ada sebuah kontradiksi antara kebijakan dan retorika," kata Wilcke. Misalnya, dalam upaya untuk menarik investasi asing, pemerintah Mesir berdamai dengan beberapa mantan anggota rezim Hosni Mubarak yang telah dihukum karena korupsi, kata dia.

Survei tersebut berdasarkan wawancara dengan sekitar 1.000 orang di setiap negara antara September tahun lalu hingga Maret tahun ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.