Kompas.com - 09/07/2013, 07:48 WIB
shutterstock
|
EditorEgidius Patnistik

PARIS, KOMPAS.com — Harapan muncul bagi jutaan pasangan suami istri di negara berkembang yang ingin memiliki anak. Sebuah proses laboratorium yang sederhana berhasil mengurangi biaya perawatan kesuburan dan proyek bayi tabung hingga hanya 200 euro atau sekitar Rp 2,5 juta.

Kantor berita AFP, Senin (8/7/2013), mengutip jumpa pers European Society fot Human Reproduction and Embryology (ESHRE) yang menegaskan, pengembangan dalam penyederhanaan proses laboratorium akan membuat biaya bayi tabung hanya 10 persen sampai 15 persen dari program bayi tabung yang ada selama ini.

Penggunaan sistem dua tabung menggantikan inkubator karbon dioksida khusus, gas medis, dan sistem purifikasi udara dalam menjaga embrio tetap sehat saat proses bayi tabung berlangsung. Sistem baru ini sudah dicoba di Belgia pada pasien dengan usia di bawah 36 tahun di mana sedikitnya delapan indung telur siap untuk proses kesuburan ini.

Dan, sejauh ini diklaim 12 bayi tabung "biaya murah" telah lahir dan kondisinya sehat. "Hasil awal kami sudah terbukti secara prinsip dan sebuah sistem yang sederhana telah didesain untuk negara-negara yang sedang berkembang, di mana perawatan kesuburan melalui bayi tabung sangat memungkinkan dengan biaya terjangkau," ujar Elke Kleskz dari Genk Institute for Fertility Technology.

Selama ini, proyek bayi tabung di negara-negara kaya membutuhkan biaya 1,5 juta sampai 3 juta euro (sekitar Rp 16 miliar sampai Rp 36 miliar). Biaya program bayi tabung ini bisa ditekan hingga biaya minimal kurang dari 300.000 euro. Namun, kini biaya tadi bisa ditekan lagi hingga hanya sekitar Rp 2,5 juta.

Program bayi tabung murah ini sedang disiapkan dan November mendatang diharapkan sudah tersedia pusat latihan bagi klinik di negara berkembang. Sudah ada lebih dari lima juta bayi tabung lahir sejak bayi tabung pertama, Louise Brown, lahir tahun 1978. Namun, biaya mahal membuat bayi tabung hanya bisa diperoleh di negara kaya atau hanya orang kaya yang sanggup membayar program bayi tabung.

Kini program itu bisa dikembangkan di negara berkembang di mana kaum perempuan di sana menghadapi stigma, disakiti dan dikecam karena dituduh sebagai penyebab pasangan tak punya keturunan. Lebih dari dua juta pasangan di negara berkembang menghadapi persoalan berkaitan dengan kesuburan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.