Kompas.com - 04/07/2013, 05:19 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani
KAIRO, KOMPAS.com — Pengumuman militer yang mengambil alih kekuasaan Presiden Mesir Muhammad Mursi, Rabu (3/7/2013) malam waktu setempat, disambut meriah dengan kembang api oleh kubu oposisi yang memadati Tahrir Square di Kairo, Mesir. Tetapi, di seberang Sungai Nil, pendukung Mursi pun terus menyuarakan celaan terhadap penjatuhan kekuasaan Mursi ini di saat Mursi telah meminta solusi damai diambil untuk penyelesaian krisis politik di Mesir.

Kalangan Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam yang berada di barisan pendukung Mursi, mengatakan, pengambilalihan kekuasaan ini telah membuang kehendak rakyat dan mengembalikan Mesir ke tirani. "Jutaan mengutuk kudeta dan mendukung legitimasi presiden terpilih," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan yang di-posting di situs resminya.

Mursi juga berbicara kepada para pendukungnya melalui pengeras suara di Rabaa Adawya Square, tetapi tetap belum diketahui pasti di mana saat ini Mursi berada. Melalui akun Twitter, Juru Bicara Ikhwanul Muslimin, Gehad al-Haddad, mengatakan, saluran satelit pro-Mursi telah dipotong oleh militer.

Sebelum pengumuman Rabu malam, pasukan militer bergerak ke posisi kunci di sekitar ibu kota untuk menutup jembatan di atas Sungai Nil dan sekitar Rabaa Adawya. Mursi adalah pemimpin konservatif religius berlatar belakang pendidikan Amerika Serikat, yang terpilih menjadi Presiden Mesir pada Juni 2012.

Mursi adalah presiden pertama di negara itu yang dipilih langsung dalam proses demokratis. Namun, dukungan untuk Mursi turun drastis setelah pemerintahannya dianggap gagal menjaga ketertiban dan tak mampu menghidupkan kembali ekonomi Mesir.

Kekacauan, termasuk serangan seksual terbuka pada wanita di jalan-jalan Mesir, telah membuat wisatawan dan investor hengkang dari negeri piramida itu bersamaan dengan pernyataan kubu oposisi bahwa aturan Mursi semakin otoriter.

Mohamed ElBaradei, mantan Kepala Badan Energi Atom Internasional dan tokoh oposisi terkemuka, mengatakan, langkah yang diumumkan pada Rabu malam ini merupakan "koreksi atas jalannya revolusi". Pada 2011, pemimpin lama Mesir, Husni Mubarak, lengser melalui serangkaian demonstrasi berdarah, yang kemudian disebut sebagai Revolusi 2011 Mesir.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Sumber CNN.com
    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.