Kompas.com - 01/07/2013, 19:27 WIB
Pasukan PBB mengukiti upacara serah terima tugas dari pasukan Afrika dan Perancis di Bamako, Mali. Sebanyak 12.600 pasukan PBB bertugas mengamankan pemilihan presiden Mali yang dijadwalkan pada 28 Juni mendatang. HABIBOU KOUYATE / AFPPasukan PBB mengukiti upacara serah terima tugas dari pasukan Afrika dan Perancis di Bamako, Mali. Sebanyak 12.600 pasukan PBB bertugas mengamankan pemilihan presiden Mali yang dijadwalkan pada 28 Juni mendatang.
EditorErvan Hardoko
BAMAKO, KOMPAS.com — Pasukan PBB, Senin (1/7/2013), mulai menggantikan pasukan Uni Afrika yang bertugas di Mali. Pasukan PBB ini bertugas untuk memastikan stabilitas negeri itu, empat pekan sebelum pemilihan umum.

Pasukan PBB berkekuatan 12.600 personel itu menggantikan misi pasukan Afrika yang tergabung dalam AFISMA, yang telah membantu pasukan Perancis memukul mundur pemberontak Islam dari wilayah utara Mali yang sangat luas itu.

Saat ini Perancis juga sudah mengurangi jumlah personelnya dari 4.500 orang menjadi hanya sekitar 1.000 personel. Mereka akan dipertahankan di Mali untuk membantu pasukan Mali menumpas sisa pemberontak.

Pasukan PBB di Mali atau disebut MINUSMA itu akan dipimpin Jenderal Jean-Bosco Kazura dari Rwanda, yang adalah mantan wakil komandan pasukan Uni Afrika di Darfur, Sudan.

Sebagian besar anggota pasukan PBB ini berasal dari Afrika. Namun, China sudah menawarkan 500 personel. Jika tawaran China ini diterima, maka misi di Mali ini menjadi kontribusi terbesar China terkait pasukan penjaga perdamaian PBB.

Misi PBB ini akan memainkan peran utama dalam mengamankan pemilihan presiden Mali yang akan digelar pada 28 Juli mendatang.

Namun, komisi pemilihan umum Mali meragukan pemilihan presiden akan berlangsung adil dan jujur dengan persiapan yang begitu singkat seperti saat ini.

Presiden komisi pemilihan Mali, Mamadou Doamountani, pada pekan lalu mengatakan sangat sulit mendistribusikan delapan juta kartu pemilih di sebuah negara yang 500.000 warganya kini menjadi pengungsi.

Mamadou juga menyoroti belum stabilnya kondisi di kota Kidal, yang dikuasai kelompok separatis Tuareg dan belum ditangani militer, meski pemerintah dan pemberontak sudah menyepakati gencatan senjata.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.