PM Turki Kecam Media Sosial

Kompas.com - 25/06/2013, 15:37 WIB
Sekitar 40 ribu orang berunjuk rasa di Cologne, Jerman, untuk mendukung demonstran di Turki. Unjuk rasa ini diorganisir oleh Federasi Serikat Alavi Turki di Jerman. VOASekitar 40 ribu orang berunjuk rasa di Cologne, Jerman, untuk mendukung demonstran di Turki. Unjuk rasa ini diorganisir oleh Federasi Serikat Alavi Turki di Jerman.
EditorEgidius Patnistik

ISTANBUL, KOMPAS.COM — Perdana Menteri Turki mengecam media sosial dan berjanji merazia sarana tersebut dan penggunanya. Sudah ada yang ditahan dan aturan baru sedang disusun untuk membatasi penggunaan media sosial. Namun, para pengamat mengklaim bahwa penggunaan media sosial akan meningkat di tengah bertambahnya kasus penyerangan polisi terhadap demonstran.

Pada akhir pekan lalu, Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan membantah kekhawatiran akan meningkatnya sikap otoriter pemerintahannya, dengan mengatakan bahwa kekacauan merupakan bagian dari konspirasi internasional besar yang sekarang menyertakan Brasil.

"Permainan yang dimainkan atas Brasil baru-baru ini merupakan permainan yang sama yang dimainkan terhadap Turki. Pesan-pesan di Twitter dan Facebook sama. Protes-protes (di Turki) dari awal dilakukan dengan tindakan yang buruk dan niat yang jahat. Mereka terus-terusan berbohong, terlibat dalam manipulasi yang berlanjut, menerbitkan berita bohong, melontarkan hinaan, dan menginjak-injak keadilan," ujar Erdogan.
 
Erdogan menggambarkan media sosial sebagai ancaman besar terhadap masyarakat untuk menyebarkan kebohongan dan setengah kebenaran mengenai pemerintahannya. Menurut pemerintahan Erdogan, media sosial merupakan elemen kunci dalam plot internasional melawan dirinya. Pemerintah Turki menegaskan pihaknya telah menjaring lima juta pesan di Twitter dan mempertimbangkan aturan internet baru, selain memperluas kekuasaan lembaga mata-mata negara.

Emma Sinclair Webb, peneliti mengenai isu Turki dari kelompok hak asasi manusia yang berbasis di New York Human Rights Watch, mengatakan bahwa memang ada dasar hukum untuk mengontrol pesan-pesan di Twitter. Namun, ia khawatir kekuasaan seperti itu dapat disalahgunakan.

"Pembatasan hak berbicara, pernyataan di Twitter dan menulis hanya dapat dilakukan jika hal-hal itu berisi ancaman langsung atau segera. Jadi ambang batasnya harus tinggi untuk pembatasan apa pun. Sayangnya, yang kita lihat di Turki selama bertahun-tahun, perbedaan pendapat bisa menjadi sesuatu yang dapat diadili di pengadilan, padahal seharusnya tidak boleh," ujar Webb.

Sebuah video yang memperlihatkan seorang demonstran kewalahan menghadapi lautan gas air mata di Alun-Alun Taksim, Istanbul, jantung demonstrasi di seluruh negeri, telah tersebar di Turki. Media sosial, terutama Facebook dan Twitter, digunakan oleh para pemrotes untuk mengekspos kekerasan polisi dan, seperti juga dalam gerakan kebangkitan Arab (Arab Spring), mereka memberikan sarana bagi para demonstran untuk mengorganisasi diri.

Yaman Akdeniz, ahli kebebasan dunia maya di Bilgi University di Istanbul, mengatakan meski peran penting media sosial meningkat, ia khawatir akan serangan pemerintah.

"Orang-orang sekarang lebih banyak beralih ke media sosial karena ini satu wilayah tempat pihak berwenang tidak memiliki kontrol. Mereka tidak dapat melemparkan meriam air atau gas air mata di sarana media sosial," ujarnya.

"Namun, saya sendiri tidak berharap pemerintah mengontrol media-media sosial. Tidak ada pemerintah yang berhasil melakukannya. Jadi saya kira mereka akan berkonsentrasi pada penuntutan, pada identifikasi orang, dan kemudian semua orang khawatir karena mereka tidak tahu apakah mereka akan diselidiki atau ditahan. Banyak orang yang ditahan di (kota-kota) Izmir dan Adana," ujar Akdeniz.

Stasiun televisi Turki pada Sabtu lalu memperlihatkan video mengenai polisi yang melakukan razia pada dini hari dan menahan 22 orang. Banyak orang yang telah ditahan karena menulis di Twitter.

Di kafe tengah kota Istanbul yang trendi, sekelompok demonstran dengan laptop dan tablet membahas apa langkah mereka selanjutnya. Dengan ditahannya sejumlah demonstran atas dasar undang-undang anti-teror dan kejahatan terorganisasi, setiap orang sadar akan risiko yang diambil.
 
"Saya khawatir teman-teman dekat saya mungkin ditahan, dan mereka (pihak berwenang) mungkin mencoba memenjarakan beberapa orang ini seumur hidup. Saya khawatir dengan nasib banyak orang. Namun ,itu pada aspek pribadi. Saat saya lihat seluruh negeri, saya tidak khawatir lagi karena saya melihat orang-orang. Ini untuk pertama kalinya di negara ini orang-orang betul-betul memberontak untuk demokrasi, untuk semua orang," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X