Kompas.com - 18/06/2013, 13:40 WIB
EditorEgidius Patnistik

WASHINGTON, KOMPAS.COM - Presiden Barack Obama, Senin (17/6), menyatakan skeptis penetapan zona larangan terbang di Suriah atau aksi militer besar AS lainnya bisa menyelamatkan nyawa atau menggoyangkan keseimbangan rezim Presiden Bashar al-Assad.

Ketika berbicara kepada televisi PBS, Obama mengatakan, para pengamat yang menyerukan intervensi yang berani telah gagal memahami bahwa tidak ada solusi sederhana dan "jika anda menentukan zona larangan terbang, itu berarti anda mungkin tidak benar-benar memecahkan masalah."

Walau deputi Obama pekan lalu mengumumkan rencana untuk mempersenjatai oposisi Suriah, Presiden AS itu dalam wawancara tersebut memperingatkan sebuah litani bahaya yang terkait dengan aksi militer langsung dan mengulangi tekadnya untuk tidak terseret ke dalam sebuah perang darat lain di Timur Tengah.

Saat menanggapi seruan untuk melumpuhkan pesawat tempur Suriah dengan kekuatan udara Amerika, Obama mengatakan "fakta dari hal itu adalah, 90 persen dari kematian yang terjadi bukan karena serangan angkatan udara Suriah. Angkatan Udara Suriah tidak terlalu baik, tidak berfungsi dengan sangat baik," katanya. Ia menambahkan, sebagian besar aksi itu berlangsung di darat.

Tentang sebuah "koridor kemanusiaan" yang mungkin menjaga warga sipil di wilayah yang dikuasai oposisi, Obama mengatakan langkah itu akan membutuhkan serangan bom yang bisa membawa konsekuensi yang tidak diinginkan, termasuk memicu kematian lebih banyak warga sipil. "Atau jika anda membentuk koridor kemanusiaan, apakah anda pada kenyataannya berkomitmen untuk tidak hanya menghentikan pesawat memasuki koridor itu, tapi juga rudal? Dan jika demikian, apakah itu berarti bahwa anda harus membersihkan Damaskus dari senjata dan kemudian anda siap untuk membom Damaskus? Dan apa yang terjadi jika ada korban sipil?"

Dalam sebuah komentar terbuka yang tidak biasa tentang opsi militer AS itu, Obama mengatakan pemboman juga akan membawa risiko yaitu secara tidak sengaja menyerang situs-situs senjata kimia, yang berpotensi melepaskan zat-zat mematikan itu ke udara. "Dan kami telah memetakan semua fasilitas senjata kimia di Suriah untuk memastikan bahwa kami tidak menjatuhkan bom di fasilitas-fasilitas senjata kimia yang dapat terkena ledakan dan berakhir dengan menyebarkan senjata kimia itu dan membunuh warga sipil, yang sesungguhnya persis merupakan apa yang kami coba cegah?"

Obama tersirat memperlihatkan bahwa ia khawatir untuk memasok senjata yang lebih canggih buat para pemberontak dan menolak argumen beberapa anggota parlemen serta komentator yang menyatakan bahwa langkah tersebut akan mengubah arah perang. Menurut dia, usulan memasok senjata memperlihatkan sikap yang tidak realistis dalam menganalisis situasi.

Dia mengatakan, sejumlah pengamat telah mengusulkan "kita menyerbu, tanpa zona terbang, membentuk koridor kemanusiaan, dan sebagainya dan bahwa itu seharusnya solusi sederhana." Dengan merujuk pada pertemuan-pertemuan di "Situation Room " Gedung Putih dengan para perwira militer dan laporan intelijen, Obama mengatakan, "Kecuali Anda terlibat dalam percakapan-percakapan tersebut, maka agak sulit bagi anda untuk memahami kompleksitas situasi dan bagaimana kita tidak harus buru-buru masuk ke dalam sebuah perang lagi di Timur Tengah."

Namun, Obama mengatakan, ia juga menolak saran bahwa Amerika Serikat tidak punya peran untuk dimainkan. Washington punya "kepentingan serius di sana dan tidak hanya kepentingan kemanusiaan," katanya. "Kami tidak bisa membiarkan situasi kekacauan terus berlangsung di negara besar yang berbatasan dengan negara seperti Yordania yang juga punya perbatasan Israel."

Obama menegaskan bahwa dia menolak berpihak pada kaum Sunni dalam konflik Suriah sebagaimana disuarakan sejumlah pihak di wilayah itu. Ia mengatakan bahwa hal itu tidak akan melayani kepentingan Amerika. Pemerintah AS ingin melihat pemerintah yang toleran di Suriah yang
"tidak sektarian," tambahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.