Figur Multitalenta Menjadi Presiden Iran

Kompas.com - 17/06/2013, 03:11 WIB
Editor

Oleh Musthafa Abd Rahman

Ketika Hassan Rohani diumumkan sebagai presiden terpilih Iran, Sabtu (15/6) malam, kota Teheran segera berguncang bak dilanda gempa bumi. Massa, khususnya generasi muda, secara spontan keluar rumah dan memadati jalan-jalan di Teheran, meluapkan kegembiraan mereka atas terpilihnya Rohani. Banyak yang menyebut membeludaknya manusia di jalan-jalan kota Teheran sebagai ”Musim Semi Iran” yang berhasil menggulingkan dominasi kekuasaan kaum konservatif melalui cara demokratis, yakni pemilihan umum.

Banyak warga Teheran mengatakan, Rohani bukan hanya layak sebagai presiden, melainkan ia justru sudah sangat terlambat menjadi presiden mengingat akumulasi prestasinya yang luar biasa.

Rohani dikenal sebagai sosok multitalenta, mulai dari orator, perunding ulung, peneliti, intelektual, politisi, administrator, dan bahkan figur militer.

Rohani juga adalah satu-satunya ulama di antara enam kandidat presiden Iran. Dia sesungguhnya adalah anggota Jamaah al-Ulama al-Munadzilin (Rouhaniat) yang beraliran konservatif, tetapi ia dikenal memiliki pemikiran moderat, sehingga mendapat dukungan luas dari kubu reformis.

Dalam pemilihan presiden (pilpres) kali ini, Rohani merupakan simbol moderat, bijaksana, dan harapan di antara kandidat presiden lainnya.

Siapa pun yang memberi perhatian terhadap isu program nuklir Iran, tidak akan melupakan peran besar Hassan Rohani ketika menjadi anggota Dewan Keamanan Nasional Iran.

Ia menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional selama 16 tahun (1989-2005). Pada saat itu, ia berperan penting dalam perundingan dengan Barat soal isu program nuklir.

Rohani dikenal memiliki kebijakan luar negeri yang jelas dan luwes terkait berbagai isu strategis Iran, termasuk program nuklirnya.

Rohani saat itu berhasil menghindarkan program nuklir Iran dari forum pembahasan di Dewan Keamanan PBB melalui cara mencapai kesepakatan tertentu dengan Barat.

Lawan-lawan politiknya saat itu mengkritik keras Rohani karena dinilai tunduk pada kemauan Barat. Ia saat itu menjawab dengan mengatakan, isu program nuklir Iran harus tetap memperhatikan kepentingan nasional Iran.

Tak ingin konfrontasi

Rohani juga tercatat memiliki prestasi menghindarkan Iran terjerumus dalam perang, ketika berhasil mencapai kesepakatan dengan troika Eropa (Perancis, Inggris, dan Jerman) untuk membekukan proses pengayaan uranium pada tahun 2005. Kesepakatan tersebut dikenal dengan Kesepakatan Saadabad.

Ia selalu berkata tidak ingin berkonfrontasi dengan masyarakat internasional. Rohani cenderung memprioritaskan berbagai tantangan dalam negeri dan mengutamakan kepentingan nasional serta penyelamatan ekonomi nasional.

Dalam pergaulan internasional, ia pun lebih mengutamakan penggunaan etika.

Pada acara debat para kandidat presiden, Rohani terlihat menonjol. Ia tampil profesional dalam cara menyampaikan program kerjanya.

Rohani memberi prioritas dalam isu-isu dalam negeri, terutama sektor ekonomi, seperti cara mengatasi pengangguran, inflasi, dan masalah perumahan.

Ia mengkritik keras kebijakan pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial. Ia percaya dengan pemerintahan luas yang melibatkan banyak kekuatan politik.

Ia juga menyebut, pemerintahan harus dikendalikan oleh rakyat, bukan oleh partai atau kekuatan politik tertentu.

Hassan Rohani lahir pada 12 November 1948 di kota kecil Shorkeh di Provinsi Semnan, sekitar 120 kilometer arah timur kota Teheran. Presiden Ahmadinejad juga dilahirkan di provinsi tersebut.

Rohani meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Teheran dan mendapat gelar Ijtihad di bidang ilmu keislaman dari Al Houzah Ilmiah di kota Qom. Ia kemudian mendapat gelar doktor di bidang hukum dari Glasgow Caledonian University, Skotlandia.

Rohani terlibat aktif dalam aktivitas politik sejak dekade 1960-an. Ia yang menyebut Pemimpin Revolusi Iran Khomeini sebagai Imam sehingga sebutan Imam Khomeini selalu digunakan pascarevolusi tahun 1979.

Orator ulung

Rohani dikenal orator ulung yang mampu memengaruhi para pendengarnya. Ia pernah dilarang naik mimbar pada masa Shah Iran Reza Pahlevi.

Sosok Rohani juga berandil besar dalam membangun kembali militer Iran pascarevolusi. Ia pernah menjabat posisi penting di jajaran militer Iran, yakni sebagai penanggung jawab satuan anti-serangan udara pada masa Perang Irak-Iran tahun 1980-1988.

Ia terpilih sebagai anggota parlemen selama lima periode berturut-turut (1980-2000). Setelah itu, ia menduduki posisi penting di Dewan Keamanan Nasional Iran. Pada saat yang sama, ia memimpin pusat studi strategis pada lembaga pengarah kepentingan negara.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei kemudian meminta Hassan Rohani berkonsentrasi pada tugas-tugasnya di Dewan Keamanan Nasional. Rohani saat itu juga sebagai anggota dewan pakar pimpinan.

Rohani menguasai lima bahasa, yakni Inggris, Rusia, Arab, Jerman, dan Perancis. Ia memiliki beberapa buku karangan dan menulis artikel pada lebih dari 30 media cetak.

Setelah melalui jenjang karier yang panjang di berbagai bidang, akhirnya Rohani terpilih sebagai Presiden Iran dalam pilpres hari Jumat pekan lalu. Selamat, Hassan Rohani!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.