Erdogan Ultimatum Pemrotes

Kompas.com - 14/06/2013, 03:25 WIB
Editor

Ankara, Kamis - Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, Kamis (13/6), mengultimatum para pengunjuk rasa yang masih memadati Taman Gezi di Istanbul untuk segera mengakhiri aksi protes mereka. Erdogan juga menawarkan referendum terkait rencana alih fungsi lahan Taman Gezi yang menjadi pemicu awal aksi demonstrasi.

”Saya memberi peringatan terakhir, tarik anak-anak Anda dari taman itu. Kami tidak bisa menunggu lagi karena Taman Gezi bukan milik pengunjuk rasa, melainkan milik semua orang,” kata Erdogan.

Sebelumnya, pada Selasa malam lalu, polisi telah mengambil alih Alun-alun Taksim yang berada di sebelah taman itu dari para pengunjuk rasa.

Sebagaimana diberitakan, warga menentang rencana pemerintah membangun kawasan taman menjadi replika barak militer era Ottoman.

Unjuk rasa itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas menentang Erdogan. Ia dinilai sebagai pemimpin yang makin otoriter setelah 10 tahun berkuasa.

Kritik itu dihadapi dengan sikap keras aparat yang memicu kecaman dari berbagai kalangan di Turki. Dikabarkan, empat orang pengunjuk rasa dan seorang polisi tewas, serta 5.000 orang lainnya luka-luka sejak unjuk rasa bergulir, 31 Mei lalu.

Sema Aksoy, pengacara warga, mengatakan, Ether Sarisuluk (26), pengunjuk rasa, tewas pada Kamis pagi. Ether adalah salah satu dari empat warga tewas selama unjuk rasa itu.

Ia sempat menjalani perawatan karena luka di kepalanya. Ether diduga terkena tabung gas air mata yang ditembakkan aparat pada 1 Juni lalu.

Kembali tenang

Setelah sebelumnya rusuh dengan bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa, suasana Taman Gezi pada dua hari terakhir dikabarkan tenang.

Sebagian pengunjuk rasa yang masih bertahan di taman itu memanfaatkan waktu untuk bermain bola. Seorang pemain piano sempat bergabung dengan para demonstran dan memainkan beberapa lagu.

Erdogan berusaha berkompromi dengan para demonstran dengan menawarkan referendum terkait rencana pembangunan Taman Gezi. Namun, tawaran itu belum mendapat respons positif dari para pengunjuk rasa.

Wakil Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Huseyin Celik, Rabu, mengatakan, pemerintah menawarkan referendum mengenai rencana pembangunan kembali taman tersebut.

”Pemerintah tak bisa menerima protes tersebut berlangsung selamanya,” kata Celik dalam sebuah konferensi pers di ibu kota Ankara menyusul pertemuan antara Erdogan dan sekelompok tokoh masyarakat terkait dengan unjuk rasa di Taman Gezi.

Celik menambahkan, siapa pun yang memiliki niat buruk dan berusaha memprovokasi, serta bersikukuh tinggal di taman, akan berhadapan dengan polisi.

Harian Star, sebuah surat kabar propemerintah, menulis ”Jalan Keluar adalah Referendum” sebagai judul utama. Harian Cumhuriyet, surat kabar yang kritis terhadap Erdogan menulis ”Permainan Referendum” sebagai judul utama.(AP/AFP/Reuters/JOS)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X