Musim Hujan dan Ekonomi India

Kompas.com - 14/06/2013, 02:37 WIB
Editor

Musim hujan mungkin merupakan satu-satunya musim yang ditunggu oleh jutaan orang di India. Harian Bussiness Standard menyatakan, musim hujan yang dinantikan oleh jutaan petani India sudah tiba di negara-negara bagian selatan pada waktu yang tepat. Bahkan, bintang besar Bollywood, Amitabh Bachchan, turut serta merayakan peristiwa itu.

”Musim hujan telah tiba Kerala dan Pulau Laksdweep. Ini adalah pertanda baik,” demikian tulis bintang film senior itu pada blog-nya.

Musim hujan adalah hal penting di India. Curah hujan yang mencukupi akan membuat panen baik sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani, memperbanyak konsumsi pedesaan, dan mendorong perekonomian nasional. Sebaliknya, curah hujan yang kurang dan kekeringan dalam kasus ekstrem akan merugikan petani, meningkatkan harga, dan menghambat perekonomian.

Sejak tahun 1925, Komisi Pertanian Kerajaan di India telah menyebutkan bahwa perekonomian India seperti berjudi dengan musim hujan.

Sekitar tiga dekade kemudian, pada tahun 1953, mingguan The Economic Weekly pada editorialnya menyebut India kekurangan alat meteorologi untuk memperkirakan musim hujan.

Lebih dari satu setengah abad kemudian, Business Standard melaporkan, ”Curah hujan periode Juni hingga September sangat penting bagi bagi 55 persen lahan pertanian tanpa irigasi di India, salah satu produsen dan konsumen pangan terbesar di dunia.” Dari fakta-fakta tersebut jelaslah mengapa jutaan orang di India terobsesi oleh musim hujan.

Lahan pertanian di India sebagian besar merupakan lahan tadah hujan. Negara itu mendapatkan 75 persen curah hujan pada periode Juni-September. Sekitar 70 persen orang India bergantung langsung atau tidak langsung pada sektor pertanian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sektor pertanian menyumbang sekitar 14,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) India yang sebesar 1,83 triliun dollar AS. Walau porsinya menurun, pertanian menyerap 58 persen total lapangan kerja di negara itu.

Menurut sebuah penelitian, sekitar 68 persen daerah di India mengalami kekeringan dalam berbagai level. Sepertiga dari jumlah lahan tersebut mengalami kekeringan kronis. Antara tahun 1801 dan 2002, India mengalami 42 kali kekeringan parah. Kejadian itu merusak panen dan mengganggu pertumbuhan ekonomi India.

Menurut para ahli, India harus mengembangkan varietas beras dan kelapa sawit penghasil minyak sayur yang tahan kekeringan. India juga perlu membangun sistem peringatan dini kekeringan serta memperbanyak alat meteorologi untuk mempertajam perkiraaan cuaca.

India juga perlu membangun konservasi air karena terlalu banyak air yang terbuang sia-sia. India juga perlu mengatur pasokan pangan yang besar, sekitar 60 juta ton pada awal tahun ini, dengan lebih baik lagi. Terlalu banyak stok pangan itu yang akhirnya rusak sia-sia. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa hal itu tragedi yang lebih besar daripada perkiraan hujan tidak tepat.

Selamat datang musim hujan. (BBC/joe)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.