Kompas.com - 08/06/2013, 18:17 WIB
EditorEgidius Patnistik

Presiden Amerika Serikat, Baracak Obama, dan Presiden China, Xi Jinping, sudah memulai pertemuan puncak kedua negara selama dua hari di California. Kedua pemimpin akan membahas perbedaan antara kedua pemerintahan dan upaya membangun hubungan yang baru.

Presiden Obama mengatakan hal yang disebutnya sebagai 'area ketegangan' dan persaingan di Pasifik, ambisi nuklir Korea Utara, maupun kegiatan mata-mata di internet.

Pertemuan ini merupakan yang pertama kali sejak Xi Jinping menjabat Presiden China, Maret tahun ini.

"Keputusan kami untuk bertemu amat cepat menekankan pentingnya hubungan Amerika Serikat-Cina," tutur Presiden Obama. Dia menambahkan Amerika Serikat menyambut kebangkitan China yang damai dan menginginkan tata perekonomian dengan 'semua negara bermain dalam peraturan yang sama.'

"Sayangnya, ada wilayah-wiyalah ketegangan antar negara kita."

Berbagai masalah

Suasana pertemuan yang dibuat tidak resmi di Palm Springs dilhat sebagai upaya dari dua negara besar dunia untuk menjalin hubungan di tengah-tengah sejumlah masalah yang serius. Sementara itu Presiden Xi mengatakan bahwa pertemuan dengan Obama akan menyusun masa depan hubungan China-AS dan menggambar cetak biru hubungan itu.

"Lautan Pasifik yang luas memiliki ruang yang cukup untuk dua negara besar seperti Amerika Serikat dan China."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kunjungan Presiden Xi ke Amerikat Serikat ini merupakan lawatan ke luar negerinya yang keempat setelah ke Trinidad dan Tobago, Kosta Rika, dan Meksiko.

Pertemuan Obama dan Xi berlangsung berbulan-belun lebih cepat dari perkiraan bahwa keduanya akan bertemu dalam konferensi tingat tinggi ekonomi di Rusia pada bulan September. 

"Saya mendapat kesan bahwa kedua pihak ingin untuk mengkaji posisi mereka dan melihat apakah mereka bisa mencapai sebuah hubungan yang didasarkan pada perspektif yang melampaui momen saat ini, dengan kata lain lebih dari pemecahan masalah secara mendesak," tutur mantan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger, kepada BBC.

Pertemuan memang berlangsung di bawah bayang-bayang masalah antara kedua negara, antara lain tuduhan bahwa peretas komputer China 'mencuri' rancangan sistem persenjataan AS.

Selain itu, program rudal dan nuklir Korea Utara juga muncul ke permukaan walau China -sebagai sekutu erat Korut- juga mulai menekan Korut untuk membuka kembali jalan perundingan.

China mengungkapkan pula keprihatinan atas rencana Amerika Serikat untuk meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Pasifik, yang ditujukan untuk mengimbangi pengaruh China di kawasan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.