Kompas.com - 30/05/2013, 14:21 WIB
EditorFikria Hidayat

KOMPAS.com — Enam dekade setelah penaklukan Gunung Everest, pendaki gunung mengeluh adanya kemacetan pendaki di jalur puncak Gunung Everest. Pengkritik menyebutkan, ibarat kemacetan di pintu tol saat akhir pekan. Bagaimana mungkin gunung tertinggi di dunia menjadi begitu padat?

Pada 29 Mei 1953, Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berdiri berdua saja di bagian paling tinggi di dunia tersebut. Kini, kondisinya berbeda. Puncak yang sama bukan lagi titik yang terpencil.

Tahun ini beberapa pendaki mengeluh menunggu hingga 2,5 jam di antrean kemacetan dalam pendakian mereka ke puncak Everest.

Sejumlah foto yang disiarkan bulan ini oleh AFP dan AP, terlihat antrean mengular di jalur punggungan menuju puncak. Memicu perdebatan apakah hal itu merusak kenikmatan pendakian.

Orang di negara-negara barat merogoh kocek berapa pun mulai dari 10,000 dollar AS hingga 100.000 dollar AS untuk membayar izin mendaki dan pemandu. Industri pariwisata yang besar telah bermunculan di kaki gunung, sekaligus membawa masalah sampah dan sanitasi yang buruk.

"Hanya ada orang di mana-mana," kata Ayisha Jessa (31), seorang pendaki dari London yang baru saja mengunjungi base camp Everest. Di desa terdekat Namachi, katanya, "itu benar-benar dikomersialisasikan, semuanya ditujukan untuk wisatawan barat."

Bisnis

Sejumlah pendaki menilai, ke puncak Everest lebih sebagai bisnis dibanding sebuah "pencarian".

"Ini bukan lagi pengalaman menjelajah alam, ini pengalaman McDonald," kata Graham Hoyland, pendaki gunung berpengalaman dan penulis The Last Hours on Everest, pendakian naas 1924 oleh George Mallory dan Andrew Irvine.

Kemajuan teknologi prakiraan cuaca memberi andil dalam memperburuk kemacetan di jalur menuju puncak. Pemahaman yang lebih baik tentang penyakit ketinggian juga telah membantu lebih banyak pendaki gunung berhasil menginjakkan kaki di puncak yang memiliki ketingian 8.848 meter itu.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.