Kompas.com - 28/05/2013, 23:20 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

OSAKA, KOMPAS.com Kim Bok-dong baru berusia 14 tahun saat dia diperintahkan tentara pendudukan Jepang di Korea Selatan untuk bekerja di pabrik seragam militer. Peristiwa pada 70 tahun lalu itu berakhir tragis. Nasib Kim berakhir di rumah pelacuran yang dikendalikan tentara Jepang di China selatan, tempat dia harus melayani sedikitnya 15 tentara Jepang dalam sehari.

Kantor berita AP pada Selasa (28/5/2013), mengutip Kim, melaporkan bahwa pada usia 14 tahun itu dia harus melayani tentara Jepang rata-rata 15 orang per hari, setiap pekan. Jumlah tersebut bertambah pada akhir pekan. Akhirnya dia mengalami perdarahan dan tak bisa berdiri karena sangat menderita.

"Saya dan para perempuan lainnya selalu diawasi pengawal bersenjata sehingga tak mungkin meloloskan diri," ujar Kim, yang kini berusia 87 tahun, saat menyampaikan kisah pahitnya sebagai perempuan penghibur selama masa pendudukan militer Jepang di China selatan.

Kim mengemukakan itu di depan sejumlah warga Jepang yang datang mendengarkan kisahnya di Osaka, Jepang. Kim mengaku, rahasia dari kehidupan pahitnya ini disimpan selama beberapa dekade, termasuk kepada suaminya. Sang suami sudah meninggal dan tak pernah tahu bagaimana nasib kehidupan istrinya.

Kisah nestapa serupa juga dialami puluhan ribu perempuan selama pendudukan militer Jepang di seluruh Asia dan selama Perang Dunia II. Banyak dari mereka tak berusia panjang. Mereka yang masih hidup seperti Kim kini masih menunggu Pemerintah Jepang untuk meminta maaf secara lebih mendalam dari sekadar apa yang sudah dilakukan selama ini.

"Saya berada di sini, bukan karena saya mau, melainkan karena memang saya harus melakukannya," ujar Kim kepada komunitas masyarakat Jepang di pusat kota Osaka.

"Saya datang ke sini untuk meminta Jepang menyelesaikan apa yang keliru di masa lalu. Saya berharap pemerintah menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, terutama saat para perempuan yang sudah lanjut ini masih hidup," ujarnya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Militer Jepang menjadikan para perempuan di Korea, China, dan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai budak seks. Mereka acap disebut perempuan penghibur. Seruan Pemerintah Jepang agar menyelesaikan masalah perempuan penghibur ini sudah berlangsung 70 tahun sejak Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945.

Belakangan, kecaman kepada Pemerintah Jepang kembali memanas setelah sejumlah pejabat di Jepang mengatakan bahwa perempuan penghibur itu diperlukan agar tentara Jepang tetap disiplin dan tetap semangat bertempur.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X