Parlemen Inggris: Google Licik dan Jahat

Kompas.com - 17/05/2013, 09:33 WIB
|
EditorRusdi Amral

LONDON, KOMPAS.com — Sebuah komisi di Parlemen Inggris menuduh perusahaan internet raksasa Google melakukan penyelewengan pajak korporasi dengan cara membukukan transaksi penjualan di Irlandia yang pada hakikatnya terjadi di Inggris Raya.

Dalam dengar pendapat dengan Google hari Kamis (16/5/2013), Ketua Komisi Akuntabilitas Parlemen Inggris, Margaret Hodge, menuduh perusahaan tersebut berbuat "licik" dan "jahat" dalam menjalankan bisnisnya. Tuduhan ini dibantah oleh Wakil Presiden Google untuk Eropa Utara Matt Brittin yang mengatakan bahwa semua kontrak penjualan Google untuk Inggris dilakukan di Irlandia sehingga tidak bisa dikenakan pajak di Inggris.

Google merupakan salah satu dari sejumlah perusahaan multinasional seperti Starbucks dan Amazon yang dituduh komisi tersebut melakukan rekayasa perpajakan yang canggih agar menghindar dari pembayaran pajak yang wajar. Perdana Menteri Inggris David Cameron menganggap Google dan perusahaan sejenisnya bertindak secara amoral. Sementara pemimpin oposisi Ed Milliband memandangnya sebagai perbuatan yang tidak bisa diterima.

Omzet besar

Pada tahun 2011, omzet penjualan iklan Google di Inggris Raya bernilai 3,2 miliar poundsterling (sekitar Rp 47,7 triliun), tetapi perusahaan itu hanya membayar pajak korporasi sebesar enam juta poundsterling (sekitar Rp 89,5 miliar), jumlah yang amat rendah bila dibandingkan dengan tingkat pajak korporasi sebesar 28 persen.

Berdasarkan laporan sejumlah whistleblowers, Hodge dan anggota-anggota komisi lainnya menuduh bahwa Google mempunyai ratusan staf di Inggris yang menjalankan fungsi sales walaupun Google selama ini mengatakan pegawainya di Inggris hanya melakukan promosi dan marketing. Setelah dicecar berbagai pertanyaan, Brittin mengakui bahwa Google mempunyai karyawan sales di Inggris, tetapi tetap berpegang pada keterangannya bahwa kontrak jual beli disahkan di Irlandia.

Starbucks dan Amazon

Google hanya salah satu dari sejumlah perusahaan multinasional yang mempunyai bisnis besar di Inggris Raya, tetapi membayar pajak korporasi rendah karena badan hukumnya berada di negara lain. Bulan November lalu, komite parlemen yang sama juga menuduh Starbucks dan Amazon mengeruk keuntungan besar di Inggris, tetapi hanya membayar pajak korporasi yang rendah.

Amazon pada tahun 2012 mencatat penjualan 4,3 miliar poundsterling, tetapi hanya membayar pajak korporasi 2,4 juta poundsterling.

Sedangkan Starbucks selama tiga tahun sampai 2012 sama sekali tidak membayar pajak korporasi di Inggris dan selama 14 tahun beroperasi di Inggris hanya membayar 8,6 juta poundsterling. Padahal, pada tahun 2011 saja, omzet penjualan Starbucks di Inggris mencapai 400 juta poundsterling. Terbukanya fakta ini membuat Starbucks mendapat ancaman boikot dari konsumen sehingga perusahaan itu kemudian berjanji akan membayar pajak korporasi secara sukarela pada tahun-tahun mendatang.

Walaupun Google dan perusahaan-perusahaan sejenisnya mendapat tekanan politik berat agar membayar pajak korporasi yang lebih besar, badan perpajakan nasional Inggris (Her Majesty's Revenue and Customs/HMRC) berpendapat bahwa mereka tidak melanggar hukum. Direktur Jenderal Pajak Usaha HMRC Jim Harra berpendapat bahwa aturan pajak korporasi yang berlaku secara internasional perlu diperbarui menghadapi bisnis di era digital. Dia mengatakan kepada BBC bahwa berdasarkan aturan sekarang, perusahaan-perusahaan multinasional seperti Google dan Amazon bisa memilih negara dengan tingkat pajak korporasi rendah untuk melakukan kontrak penjualan agar mendapat keuntungan maksimal.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X