Kompas.com - 10/05/2013, 10:15 WIB
EditorEgidius Patnistik

Kelompok militan Hezbollah di Lebanon mengatakan, Suriah akan memasok senjata yang "mengubah perang" untuk kelompok itu. Pemimpinnya, Hassan Nasrallah, mengatakan, senjata baru yang akan diberikan itu untuk menanggapi serangan udara Israel atas dugaan pengiriman senjata dari Suriah ke Hezbollah.

"Suriah akan memberikan kelompok perlawanan senjata khusus yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Maksud kami adalah senjata yang 'mengubah perang'," tuturnya seperti dikutip kantor AP.

Nasrallah juga mengatakan, mereka akan membantu Suriah untuk mengusir Israel keluar dari Dataran Tinggi Golan. "Kami, perlawanan Lebanon, menyatakan akan berdiri bersama perlawanan rakyat Suriah dan memberikan dukungan materi serta moral maupun bekerja sama dan berkoordinasi untuk membebaskan Dataran Tinggi Golan," tambahnya.

Dataran tinggi itu direbut Israel dari Suriah dalam perang tahun 1967.

Hezbollah dan Israel terlibat perang pada tahun 2006 dan Pemerintah Israel menegaskan tidak akan membiarkan kelompok militan tersebut meningkatkan persenjataannya. Israel juga sudah menyatakan akan melakukan serangan udara untuk pengiriman senjata berikutnya ke Hezbollah.

Tidak ada peran bagi Assad

Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan Hezbollah memiliki puluhan ribu roket, tetapi sebagian besar merupakan roket yang tidak bisa dikendalikan.

Pengiriman senjata yang menjadi sasaran serangan udara Israel dilaporkan mencakup roket terkendali.

Dalam perkembangan lain, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat —yang sedang berkunjung ke Roma, Italia— mengatakan, pemberian sistem pertahanan rudal dari Rusia ke Suriah akan menjadi faktor yang mengganggu stabilitas keamanan Israel.

"Saya kira kami membuat amat jelas bahwa kami lebih suka Rusia tidak memberikan bantuan seperti itu," tutur John Kerry.

Dia juga mengatakan tidak melihat peran bagi Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam pemerintahan transisi negara itu. "Sama sekali tidak ada orang di sini yang yakin bahwa oposisi akan memberikan persetujuan kepada Presiden Assad untuk menjalankan pemerintahan (transisi) itu."

Sebelumnya Pemerintah Suriah menyambut baik rencana konferensi internasional untuk menyelesaikan konflik Suriah yang diusulkan Amerika Serikat dan Rusia.

PBB memperkirakan, sejak konflik Suriah memanas sekitar dua tahun lalu, sudah jatuh korban sekitar 70.000 jiwa, sementara dan lebih dari satu juta warga mengungsi dari Suriah.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X