Netanyahu Didesak Retas Hambatan Damai

Kompas.com - 10/05/2013, 02:48 WIB
Editor

Beijing, Kamis - Perdana Menteri China Li Keqiang menyoroti status Palestina ketika menerima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Rabu (8/5), di Beijing. Netanyahu didesak meretas semua hambatan dan melancarkan lagi pembicaraan damai dengan Palestina, yang empat tahun ini terhenti.

Pembicaraan yang dimaksud Li adalah menyangkut status kenegaraan Palestina. Pembicaraan antara Israel dan Palestina telah menemui jalan buntu sejak empat tahun lalu meski Rusia, Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa sebagai pemain utama di Timur Tengah menekan Jerusalem.

Li menyambut pemimpin Israel itu di Balai Agung Rakyat di Beijing. Dia tidak menyinggung pertemuannya dua hari sebelumnya dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang juga berkunjung ke China.

Berharap kerja sama

Masalah Palestina, kata Li kepada Netanyahu, adalah inti dari faktor yang memengaruhi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. ”China berharap Israel dan Palestina mau bekerja sama, mengambil langkah-langkah substantif guna menyingkirkan hambatan dan menciptakan kondisi untuk pemulihan dan kemajuan perundingan damai,” kata Li.

Kantor berita Xinhua, mengutip Li, mengatakan, sebagai teman baik bagi Israel dan Palestina, China ingin menjadi perantaranya. Tujuannya agar Israel- Palestina seiring sejalan.

Lawatan Netanyahu ke China bersamaan waktu dengan Abbas. Fakta itu menegaskan betapa China sangat ingin berperan dalam diplomasi di Timur Tengah. Beijing sudah lama memandang kawasan itu sebagai sumber energinya.

”Timur Tengah membingungkan China,” kata pakar China, Yoram Evron, dari Universitas Haifa, Israel. ”Namun, dalam dua tahun ini, ada orang-orang China yang berpikir, negaranya harus memperluas kegiatan di kawasan demi menjaga kepentingannya.”

Pandangan Evron juga disuarakan oleh Li Weijian, ahli Timur Tengah dari Shanghai Institute of Foreign Studies. Kawasan itu terlalu penting bagi China sehingga mustahil diabaikan. Timur Tengah adalah bagian strategi Beijing untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan politiknya seperti di belahan lain dunia.

”China harus memainkan peran dalam urusan utama internasional, termasuk urusan Timur Tengah. China telah meningkatkan upayanya,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.