Kompas.com - 07/05/2013, 16:48 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

LAHORE, KOMPAS.com - Di tengah mayoritas Muslim Pakistan, pemeluk agama minoritas, Selasa (7/5/2013), merasa bahwa demokrasi "membunuh" mereka. Intoleransi meningkat dalam lima tahun ini di bawah pemerintahan demokratis Pakistan, seperti dirasakan oleh kelompok Syiah, Kristen, Hindu, dan minoritas lainnya.

Pada hari Sabtu yang akan datang, Pakistan bakal memilih anggota parlemen yang baru. Hal itu menandai pertama kalinya sebuah pemerintah terpilih digantikan oleh yang lain, yang dalam 66 tahun berulang kali dikuasai militer.

Minoritas tidak begitu gembira terhadap perubahan itu. Sebab, beberapa tokoh kelompok ekstremis telah ditetapkan sebagai calon dalam pemilu parlemen itu. Lebih dari selusin wakil kaum minoritas Pakistan yang mengungkapkan kekuatiran mereka bahwa ekstremis bakal berkuasa.

Sejak pemilu tahun 2008, di bawah pemerintahan tersingkir yang dipimpin oleh Partai Rakyat Pakistan yang berhaluan kiri, milisi garis keras tak henti-hentinya menarget minoritas. Kecil harapan, pemilu kali ini bisa mengubah situasi itu.

"Kami selalu menentang keadaan perang, namun selama rezim militer, hukum dan ketertiban lebih baik. Ada jaminan keamanan yang baik bagi minoritas," kata Amar Lal, pengacara dan aktivis HAM bagi komunitas Hindu.

Sekitar 96 persen dari 180 jtua warga Pakistan adalah Muslim. Sebagian besar Sunni, tetapi menurut CIA Factbook sekitar 10 sampai 15 persen adalah warga Syiah. Sisanya 4 persen adalah penganut agama lain seperti Kristen, Hindu dan Ahmadiah. Radikal Sunni memerangi Syiah.

Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS dalam sebuah laporan bulan lalu mengertik pemerintah Pakistan, atas catatan buruk dalam perlindungan minoritas. Pakistan direkomendasikan masuk dalam daftar pelanggar terburuk, dan hal itu berpotensi akan kehilangan bantuan jutaan dollar AS.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pemerintah Pakistan terus membiarkan dan mentolerir secara sistematis, pelanggaran yang sedang berlangsung, dan kekerasan terhadap kebebasan beragama atau berkeyakinan," kata laporan AS itu.

Lal mengatakan, dalam tiga tahun terakhir, 11.000 warga Hindu di Baluchistan, Pakistan selatan, telah bermigrasi ke India. Berbagai jenis teror dan kekerasan mengancam mereka agar berpindah agama.

Komunitas Kristen pun mengalami hal serupa. Maret lalu, sekelompok perusuh garis keras menyerang dan membakar 150 rumah dan toko di Joseph Christian Colony, enklave Kristen di pinggiran Lahore, ibu kota Punjab, provinsi yang menjadi pusat aktivitas milisi garis keras. (AP/CAL)



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.